The Drama – Episode 2: The Visa

Episode 2: The Visa

Karena waktunya amat mepet, akhirnya saya pun didaulat untuk segera mengurus Visa. Setelah googling sedikit-sedikit, akhirnya hari Senin minggu depannya saya berangkat sendirian ke Jakarta. Berbekal BB dan PicoPad, saya yakin bisa sampai di Kedubes Cheska dengan selamat.

Saya terbang dari Malang jam 9-an dan sampai di Cengkareng jam 11-an. Setelah menyempatkan pumping sebentar, saya langsung ke lobi buat ngantre taksi Blue Bird. Rencananya, saya mau ke Bank Mandiri deket Kedubes Cheska trus lanjut ke Kedubes dari situ. Setelah beres mencetak buku tabungan di kantor Bank Mandiri, saya jalan ke Kedubes Cheska yang ternyata nggak terlau jauh. Lagian daerah Gereja Theresia itu rindang dan rimbun, jadi enak buat jalan kaki, nggak bakal kepanasan.

Tapi seperti kesambar petir rasanya (iya iya saya tahu ini lebay), ternyata Kedubes Cheska-nya tutuuupp wuaaaaaa.

kedubes cheska, kedubes ceko
Plang nama di depan Kedubes Cheska

Jadi ternyata, Kantor Duta Besar Republik Cheska (yang ternyata masih tertulis Kantor Duta Besar Republik Ceko) itu hanya menerima pengajuan pembuatan visa pada hari Selasa dan Kamis jam 9-12 dan pengambilan visa pada pukul 13-15 saja. Sebenarnya informasi itu udah terpampang nyata di blog mereka, tapi rupanya saya tidak memperhatikannya, damn!

So these are my tips for applying visa:

1. Cari informasi secara mendetail tentang persyaratan dan prosedurnya. Jangan karena dikejar waktu kita jadi terburu-buru dan tidak memperhatikan informasi yang dicantumkan di situs web resmi Kedubes.
2. Persiapkan segala sesuatunya dengan mantap, jangan sampai ada yang tertinggal dan diremehkan. Apalagi kalo Kedubes letaknya jauh dari domisili kita, bisa-bisa kita cuma ‘jalan-jalan’ aja, nggak jadi bikin visa.

Dan inilah persyaratan bikin visa, yang saya bikin kali ini adalah Visa Schengen untuk short stay (kurang dari 3 bulan).

1. Ajukan permohonan pembuatan visa di Kedubes tempat negara yang paling lama kita tinggali. (Karena Visa Schengen adalah visa yang berlaku untuk negara-negara Eropa, bukan hanya satu negara. Jadi kalau misalnya kita bakal ada di Republik Cheska 3 hari dan di Vienna 2 hari aja, maka kita harus mengajukan pembuatan visa ke Kedubes Republik Cheska.)
2. Download aplikasi pengajuan visa schengen dan lengkapi dulu sebelum datang ke Kedubes. (Formulir aplikasi bisa didownload di sini).
3. Sertakan juga berkas-berkas yang diperlukan: fotokopi KTP, fotokopi buku tabungan, fotokopi halaman identitas passport, fotokopi asuransi kesehatan, fotokopi surat undangan dari negara tujuan (kalau tujuan keberangkatan adalah pelatihan kerja), fotokopi tiket pulang-pergi, fotokopi konfirmasi pemesanan hotel, pas foto berwarna 4×6 dengan kualitas baik (pastikan jidat juga terlihat ya dan jangan senyum, big no no). (Selain berkas fotokopi, bawa juga berkas aslinya, siapa tahu diperiksa). (Persyaratan lebih jelas, periksa di sini.)

ibis akordia
Jangan bikin pasfoto kayak gini, afterall, ini bukan pasfoto kali pek -.-“

4. Siapkan duit untuk membayar visa. Bulan Juni 2013 kemarin sih saya bayar 765.000.

Nah, kembali ke Kedubes yang tutup tadi. Karena kecapekan dan kelaparan, akhirnya saya memutuskan untuk masuk ke restoran yang ada pas di depan Kedubes, sekalian nunut ngecas BB, soalnya udah mati aja gitu. Dan begitulah hingga akhirnya saya harus menginap di Jakarta sehari untuk kembali ke Kedubes besoknya, tiket pesawat ke Surabaya pun hangus tak terpakai :(. (See the pictures and the story about it here)

monas, monumen nasional
Terpaksa menginap di Jakarta dan nggak membuang kesempatan untuk mengunjungi Monas! Here I am njunjung monas :D

Besoknya saya kembali ke Kedubes, saya datang jam 9 pagi, eh ternyata udah ada beberapa orang yang ngantri di depan pagar. Iya, di Kedubes Cheska, tempat ngantrinya ya di depan pagar. Kita nggak bakal boleh masuk ke kompleks Kedubes kalau belum gilirannya. Saya lihat mereka semua sudah pada bawa formulir pengajuan pembuatan visa, sementara saya…. beluuummmm wuaaaa (ini akibat saya tidak membaca informasi pembuatan visa dengan teliti, like i said before). Akhirnya saya bertindak cepat. Saya menghubungi kakak sepupu saya yang kerja di Jakarta, untungnya kantornya di dekat daerah situ. Saya langsung ke kantornya dan nunut fotokopi dan ngeprint formulir, sekalian juga nunut cari spot yang cukup representatif buat bikin pas foto karena saya ternyata juga tidak bawa pas foto (OMG, what a mess!).

Meskipun it was a chaos, tapi akhirnya formulir pengajuan pembuatan visa sudah terlengkapi dengan apik. Foto pun sudah jadi (foto di tembok putih polos pake BB saya, pake flash, tanpa edit, langsung diprint di kompleks perkantoran itu juga, mwahahaaa). Segala berkas yang diperlukan pun sudah terfotokopi dengan baik. Saya pun langsung balik ke Kedubes Cheska yang ternyata masih ada yang antre.

Jam sudah menunjukkan pukul 11 siang, sementara saat itu saya adalah antrean kelima. Agak dagdigdug juga apalagi ternyata saya sadar kalo saya belum punya asuransi kesehatan. Aduhmak! Lalu saya ingat-ingat, kayaknya waktu googling dulu ada yang bilang kalo ‘asuransi kesehatan tidak diperlukan kalau sudah ada surat undangan dari negara tujuan’, jadi saya agak-agak tenang gitu deh. Afterall, I didn’t want all my effort resulting in vain.

Akhirnya, jam 12 kurang lima menit saya pun kena giliran untuk masuk (cuma tinggal lima meniiitttt, ndredeg jaya sumpah deh). Dengan deg-degan (karena grogi karena baru pertama kali ngurus ginian, karena agak takut karena nggak punya asuransi kesehatan, daaan karena just found out kalo cincin kawin saya nggak lagi ada di jari manis tangan kanan saya :o) saya melewati gerbang Kedubes. Sebelum masuk ke ruangan Kedubes, saya harus meninggalkan semua barang bawaan kecuali dompet dan berkas-berkas yang diperlukan di depan pintu.

Saya diterima oleh petugas yang bernama Hana. Dia hanya bicara bahasa Inggris, dan entah kenapa bahasa Inggris saya yang tidak terlalu bagus kalo dipake conversation mendadak jadi amat hancur saat berhadapan dengannya. Saya rasa saking groginya saya jadi semuanya terasa tidak benar dan saya tidak bisa berbicara dengan lancar #glek. Hana tidak terlalu senang dengan pas foto saya, “It’s not good,” katanya. Yeah, saya paham, la memang itu hasil foto dari BB gitu #cleguk. Dan dia bilang kalo saya harus punya asuransi kesehatan kalo ingin permohonan pembuatan visa saya disetujui. Kalau tidak, visa saya nggak bakal keluar.

Akhirnya dengan gemetar yang dipede-pedekan saya minta waktu untuk memberikan asuransi kesehatan itu, bahasa kerennya, berkas asuransi kesehatan bakal saya susulin nanti. Untungnya, Hana menyetujuinya saat tahu kalo domisili saya di Malang yang jaraknya ‘one hour flight’. Hana memberi saya waktu sampai jam 5 hari itu juga untuk mengirimkan berkas asuransi kesehatan ke email Kedubes Cheska.

Setelah itu saya langsung cabut ke bandara. Saya cuma ingin cepat pulang. Dalam perjalanan ke bandara, saya informasikan pada Pakbos kalo saya harus punya asuransi kesehatan. Karena nggak ada yang tahu gimana caranya ngurus asuransi kesehatan dengan jarak waktu sependek itu, akhirnya it turned out that it was impossible untuk mendapatkan asuransi kesehatan pada hari itu.

Sampai di bandara, saya memutuskan untuk mengirim email ke Hana. Saya meminta maaf atas ketidaksiapan saya dalam mengajukan permohonan pembuatan visa karena sangat grogi dan saya bilang bahwa saya tidak bisa memberikan asuransi kesehatan pada hari yang sama. Saya bilang saya akan kembali mengajukan permohonan pembuatan visa minggu depan (yang artinya harus bayar lagi).

Betapa senangnya hati saya saat hari Kamis, Hana membalas email saya. Katanya pengajuan pembuatan visa saya sudah diproses dan mereka masih menunggu asuransi kesehatan yang diperlukan. Akhirnya, saya dan PakBos BukBos mencari-cari informasi tentang asuransi kesehatan yang bisa diproses dengan cepat, like really researching.

Akhirnya kami menemukan bahwa ada asuransi kesehatan yang bisa diproses hanya dalam 5 menit saja, bahkan kurang. Namanya AXA Schengen. Cukup klik-klik dan bayar pakai PayPal, jadi deh asuransinya. Langsung setelah itu saya kirimkan berkas asuransi itu ke email Kedubes sambil berharap semoga pengajuan saya diterima. Apalagi, tanggal keberangkatan saya adalah hari sabtu di minggu berikutnya, udah mepet banget.

Legalah hati saya saat akhirnya berkas saya lengkap. Sekarang deg-degan menunggu hasil pengajuan itu, apakah diapproved atau didisapproved. Sampai hari Selasa siang, masih belum ada kabar yang jelas mengenai visa saya. Akhirnya, saya kembali mengirim email pada Hana dan menanyakan tentang status visa saya. Hana membalas email pada hari Rabu pagi. Dan, what a great news, visa saya diapproved! Hurray! Dan visa bisa diambil besoknya jam 1-3 siang.

And this is the best part of the drama..

Karena hari Sabtu saya sudah harus berangkat ke Brno, akhirnya yang didaulat mengambil visa saya adalah rekan kerja saya, Puthu. And I’m glad I have a colleague like him. Bagaimana tidak, kalo saya yang ambil visa sendiri, kayaknya saya bakal pingsan di jalan karena too many chaos happened. So, what’s the story?

Ceritanya berawal saat Puthu dijadwalkan berangkat dari Bandara Abdul Rahman Saleh dengan penerbangan pertama Sriwijaya ke Bandara Soekarno Hatta. Tapi dari jadwal keberangkatan yang jam 8 itu, Puthu baru berangkat jam 1 siang!! Disaster! Penyebabnya saat itu Malang memang lagi mendung tebal, pesawat tidak bisa mendarat jadi lanjut ke Surabaya dan mendarat di sana. Baru bisa ke Malang agak siangan dan siap berangkat jam 1 siang itu :(. Dari situ saja saya sudah hampir putus asa. Mana nutut kalau harus mengambil visa di Kedubes yang tutup jam 3 sore?

Tapi Puthu tidak putus asa. Dia terus menelepon Kedubes dan menginformasikan keadaan yang sebenarnya. Bahwa ada delay pesawat dan betapa pentingnya visa itu diambil karena saya harus berangkat hari Sabtu-nya. Dan memang akhirnya Kedubes sudah tutup saat Puthu tiba di sana pukul 4 lebih. Saya sudah hampir nangis karena it was very close…

Ternyata, Puthu benar-benar juara! Karena dia terus menginformasikan keadaannya kepada Kedubes, akhirnya Kedubes memperbolehkan Puthu mengambil visa saya hari Jumat pagi, that was awesoooomee!!! Entah apa yang terjadi kalo nggak ada Puthu. I really proud of you, Thu, I really am.

Akhirnya, visa ada di tangan saya hari Sabtu pagi dan saya siap berangkat ke Brno.

Coming next: Stranger in strange place: Chzech Republic
Also read: The Drama – Episode 1: The Passport

One thought on “The Drama – Episode 2: The Visa”

Leave a Reply