Tag Archives: masa lalu

Miss My Capoeira

Saat pulang kerja, lalu badan serasa protol semua. Cuapek banget dah! Rasanya saat dipijitin sama bapakku (hehehe.. bapakku yang baik) bener-bener mak nyus. Kakiku serasa ada kayunya di dalamnya, ah.. pokoknya pegal-pegal. Lalu emakku berkata, “Kamu kurang olahraga. Duduk terus kerjanya!”

Benar juga, berangkat kerja nggak pernah jalan juga soalnya dianter adik naik motor. Nyampe kantor langsung duduk manis di depan komputer dan hanya berdiri sejenak saat mau ke toilet (toh akhirnya duduk juga — toilet duduk), mau makan siang (dan duduk lagi di kursi makan), mau solat. Lalu duduk terus sampai pulang kerja, dijemput lagi, nyampe rumah capek, leyeh-leyeh, nonton TV sambil berselimut, mulet-mulet dikit, ganti posisi ke tempat tidur di kamar, cari PW alias posisi wenak, tidur deh. Dan kembali lagi besok pagi berangkat ke kantor lagi. Kapan olahraganya? Paling juga setiap hari aku olahraga jari a.k.a ngetik: baik di komputer ataupun di hape. Hufth…

Padahal aku kadang olahraga juga. Aku juga masih jalan kok pas di kantor, masuk dari gerbang menuju ke tempat duduk manis kan jalan tuh, mau ke toilet juga jalan, mau ke ruang makan juga jalan, trus pas mau pulang juga jalan lagi dari tempat duduk manis ke gerbang, see? Lalu aku kadang juga masih renang. Kadang juga lari, kalau merasa telat ke kantor, jadi lari-lari kecil dari gerbang ke tempat duduk manisku :p.

Tapi aku dulu cukup bugar, aku sempat ikut aerobik dulu. Duluuu banget, sampai aku nggak ingat tahun berapa itu. Lalu aku sempat ikut capoeira. Inilah yang amat aku rindukan sekarang.

Dulu suka lucu aja, saat aku bilang aku harus latihan capoeira yang seminggu dua kali itu, semua mata terbelalak. “Kamu ikut capoeira?!” Lalu yang lebih tidak sopan lagi, mereka malah menertawakan aku. “Masa tubuh kerempeng gitu ikut capoeira! Nggak protol semua tuh tulangmu?!” Anjrit.. hehehe.. belum tahu siapa saya mereka. Kecil-kecil gini kan saya cabe rawit. Mau gua kasih kisada lu? *ngancem mode on*

Kalau diingat-ingat, ternyata udah hampir setahun aku mandeg latihan capoeira. Padahal rasanya bangga banget bisa ikutan martial arts itu. Asik banget lo karena menggabungkan seni menari, musik, dan bela diri jadi satu untuk menunjukkan pertarungan yang benar-benar indah dinikmati. Tubuh, otot, pikiran, dan jiwaku secara utuh selalu terlatih setiap latihan.

Menurut instrukturku saat itu, tahap capoeira memang banyak dan membutuhkan waktu panjang. Dengan jadwal latihan yang dua kali seminggu (Kamis dan Minggu saat itu), aku membutuhkan waktu 6 bulan untuk merampungkan tahap intro. Enam bulan kemudian baru aku bisa menjalani tahap beginner di mana bisa dapat sabuk warna … (aduh, lupa :D). Lalu setelah itu, ikut yang namanya tes tingkatan, trus bisa naik tahap deh..

Benar-benar waktu yang lama, dan sayangnya, aku cuma bisa ikutan latihan selama tiga bulan. Yiah, intro aja belum sampai rampung. Huh! Aku masih baru saja mengenal yang namanya gingga, qisada, amada, dan lain-lainnya yang sayangnya aku lupa huhuhu.. Dan selain gingga yang memang gerakan kuda-kuda paling dasar, aku masih baru benar-benar menguasai gerakan putar kaki untuk menyerang lawan yang namanya QISADA!!! (maap kalo salah ejaan, hehe)

Sampai saat ini, kartuku yang bertuliskan Capoeira Senzala Indonesia, Grupo Mastre Gato, masih tersimpan manis di dalam dompetku. Alasan klasik untuk tidak berlatih lagi, si kambing hitam: kesibukan, selain juga karena barenganku juga sama sibuk kerjanya kek aku, jadi nggak ada teman sama cupunya di tempat latihan sana. Hmm.. kapan ya bisa latihan capoeira lagi… (walaupun harus siap-siap nggak bisa ‘ndodok’ setelah latihan gara2 kaki ‘njarem’ semua hehehe…)

A Scratch About Friends

I. Titik Balik

Saat bersantai-santai sambil nonton TV, remote control di tangan kanan, kepala leyeh-leyeh di atas bantal, mata tertancap ke layar kaca. Karena nggak ada acara bagus yang bener-bener bisa ditonton, tak ayal jari pun mencet-mencet remote, pindah-pindah channel, mencari-cari program yang lebih layak tonton. Lalu akhirnya terhenti pada satu channel lokal yang lagi muterin video klipnya Bimbo, grup lawas yang cukup tenar dan tetap populer sampai sekarang kurasa. Mendengar lagu ini, pikiranku melayang dan teringat pada seorang teman lawasku.

Dulu waktu SD, waktu aku masih lugu dan amat polos (ceile), aku pernah punya satu sahabat yang kemana-mana mesti sama dia. Dari TK deh pokoknya. Setiap Minggu selalu gantian ke rumahnya siapa gitu. Minggu ini dia ke rumahku, jadi aku Minggu besoknya ke rumahnya dia.

Mainnya ya sama dia dia dia terus deh. Bahkan pernah saking pengen renangnya, kami berdua nyemplung ke kolam ikan yang dalamnya cuma se-dengkul kami saat itu. Alhasil waktu pulang ke rumah – jarak rumah kami kalau nggak salah cuma beberapa puluh meter gitu deh, emang sih beda kelurahan, tapi sama-sama daerah perbatasannya gitu – aku dimarahi abis-abisan sama Ibuku. Katanya, aku bau ikan hehehe…

Trus pas kelas lima kalau nggak salah, temenku itu baru diajari lagu bahasa Inggris, dan aku lupa judulnya. Apaan ya? Kalau nggak salah Twinkle Twinkle Little Star mungkin… Dan aku saat itu lagi cinta-cintanya ama lagu Bimbo yang Ingatlah Lima Perkara gara-gara abis ngeliat acara TV ada lagunya itu. Entahlah aku lupa apa alasannya :p

Kami seperti biasa, pulang bareng jalan kaki dari sekolah – jarak sekolah rumah kira-kira cuma sekiloan deh, dan karena kotaku emang kota sejuk dan menyenangkan (apa hubungannya ya?), maka enak banget jalan kaki walaupun di siang hari. Dia ngajak aku nyanyiin lagu bahasa Inggris itu, tapi karena baru diajarin, dia suka lupa lirik gitu. Dan aku saat itu kekna ngotot banget buat nyanyiin lagu Bimbo dulu biar bisa inget tuh lagu bahasa Inggris. Hal ini didasarkan atas pengalaman pertama seorang anak yang polos.. saat pertama kali nyanyi Twinkle2 Lil’ Star trus lupa lirik, aku iseng-iseng nyanyi lagu Ingatlah Lima Perkara, trus keinget lirik Twinkle2.. begitu…

Yah, akhirnya karena temenku itu sering lupanya daripada enggaknya, akhirnya aku juga sering ngototnya daripada enggak. Dan tak dinyana, akhirnya dia marah!! Yang mengherankan bagiku saat itu, dia marahnya dengan diem aja. Aku ajak ngomong dia dieeeem aja. Aku tanya ini itu dia nggak ngerespon. Nggak enak dong, serasa jalan ama kardus kan? Yang lebih mengejutkan lagi, dia tiba-tiba mengambil jalan pintas menuju ke rumahnya yang biasanya tidak pernah kami ambil! Aku cuma bisa diam tak mengerti, apa-apaan itu? Aku benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi, sampai saat ini, ternyata dia memang ngambek hehehe…

Lalu sejak saat itu, dia lebih dekat dengan beberapa teman cewekku yang tampak lebih dewasa. Aku emang saat itu benar-benar tidak seperti kebanyakan temanku. Mereka sudah mulai membicarakan ‘aku dapet,’ ‘henbodi-nya pake apa?’, trus ‘aku mau beli bedak ama lipglos ah..’

Sumpah saat itu aku bener-bener nggak ngerti benda macam apa itu. Jangankan kosmetik, orang mandi aja cuma kalo inget kok, hihihihi… dingin men di kotaku, sumpah deh.

Mungkin temenku itu memang sudah mulai akil baliq, nggak kayak aku yang telat berkembangnya. Buktinya aku pernah menemukan suatu bungkusan aneh yang nggak pernah kulihat sebelumnya. Bentuknya kotak, empuk2 gitu, dibungkus plastik, warnanya agak kemerahmudaan gitu. Waktu aku ambil dan kutanyakan, ini apaan? Dia langsung panik dan merebutnya dari tanganku, ‘Aduh, ini rahasia, kamu belum ngerti!’

Huh! Kenapa juga aku dulu nggak dibilangi? Toh akhirnya aku juga tahu kan..

Ya begitulah, hingga aku SMP, SMA, kuliah, dan kerja.. kami nggak pernah dekat lagi. Dia punya dunia yang nggak pernah lagi sama denganku. Dan aku juga akhirnya mendapatkan teman-teman baruku yang lainnya.

II. Contemplation Began

Lalu otakku ternyata berputar lebih keras lagi. Aku akhirnya mengingat-ingat semua temanku. Teman-teman yang pernah kenal, pernah dekat, pernah amat dekat, pernah musuhan, pernah berkonflik, pernah bersama-sama kapanpun di manapun…

Yang sempat terpikir olehku, memiliki teman banyak adalah sesuatu yang amat menyenangkan. Karena selalu ada orang yang akan menyambut kita, menemani kita, bersenang-senang bersama, bersedih bersama. Yang pernah dekat akan tetap dekat dan yang namanya sahabat akan terus jadi sahabat.

Dan ternyata aku naif, semuanya nggak sesimpel yang kupikirkan. Benar memang kalau kenyataan nggak akan seindah bayangan. Teman pun kadang akan melupakan kita.. *sakit ternyata mengungkapkan ini*

Waktu SMA dulu, aku (merasa) punya sebuah geng yang solid. Bukan satu ding, ada dua, satunya geng cewek2 satunya geng yang banyakan cowoknya. Yang cewek-cewek sih sampai sekarang masih eksis, walau yang satunya udah menikah dan tinggal di Jakarta, yang satunya kerja jadi konsultan di Kediri, yang satunya memilih jadi penjual bunga di Sidomulyo, tempat wisata bunga di kotaku, sementara aku kerja jadi editor di Malang. Thanks God ada internet dan ada HP sehingga kami masih merasa dekat walau udah terpencar-pencar.

Yang aku kecewakan di sini adalah geng yang banyakan cowoknya. Sebenarnya sih ini adalah teman-teman sekelas pas kelas dua SMA. Entah gimana, tapi pas naik ke kelas tiga, rasanya kok jadi kehilangan banget ama suasana kelas dua yang dulu, jadi sering kumpul pas istirahat. Kumpulnya di bawah pohon besar di halaman tengah sekolahku. Trus pas pulang sekolah suka nongkrong di halaman atas sekolah dan main bola di sana, aku tentu aja cuma jadi penyorak aja.

Saat itu rasanya kami semua dekat banget. Kompak, dolan bareng, bolos bareng, buka bersama, bahkan rekreasi juga bareng. Tapi entah setelah setahun lulus SMA, pelan-pelan rasa kebersamaan itu menghilang… Entah kenapa… Tapi melihat keadaan itu, aku jadi males juga kumpul2 lagi… ya sutralah… aku nggak ada daya untuk mempersatukan lagi.

Tapi juga ada yang mulai sombong, mungkin karena keadaan, yang sibuk, atau mungkin karena tidak lagi tertarik dengan kata teman lama, merasa nggak lagi cocok, atau mungkin sama-sama saling sungkan… kadang jadi ada orang yang masih kita anggap sebagai teman, sudah tidak lagi menganggap kita sebagai teman…

Mungkin ada beberapa juga yang merasa aku seperti itu, tapi aku nggak seperti itu sebenarnya. Aku nggak sombong, kalaupun ada kalanya aku tampak tak peduli, itu karena aku nggak tau harus ngapain, dan aku merasa aku nggak dibutuhin, jadi kenapa aku harus ngerusuhin? Dan kalau ada yang memang ingin kulupakan, itu karena aku benar-benar tak bisa membiarkan kenangan itu ada terus di hidupku.

Pas kuliah aku memang memiliki teman-teman lain pada akhirnya. Dan kami tetap dekat, mungkin karena semakin lama kita hidup semakin bijak kita menghadapi sesuatu. Semakin lama memang semakin nyaman berteman.

Pas di kantor pun, aku punya teman-teman. Yang aku rasakan juga sama seperti teman-teman kuliah, lebih bisa menerima apa adanya tanpa kudu mencampuri urusan kita.

Sejujurnya, aku rindu juga bisa seperti dulu, tapi sel otak sudah semakin menua dan tak bisa lagi bermekanisme seperti dulu lagi. Dan aku cukup mensyukuri adanya teman-temanku (yang lama yang masih tersisa sampai sekarang dan yang baru sekarang ini) yang berchemistry sehingga dekat dengan aku. Akhir kata, hidup nggak akan lengkap tanpa teman. Luv u dear friends, whoever u are…

Melongok ke Masa Lalu

Tak dinyana tiba-tiba aku melihat masa laluku… (yeah i know ini majas totem pro parte… sebutin semuanya padahal cuma merujuk pada sebagian ajah,,, oke oke hiperbolis.. padahal itu dua majas yang berbeda lowh). Sebenarnya tiba-tiba mataku menatap sesuatu.. dan akhirnya mau tak mau aku harus melongok sebentar ke masa laluku..

Kalau dianggap indah nggak juga, dianggap nggak indah, ada indahnya sii.. (dikiit.. hehe). Cuma aku cukup tersentak saja karena saat aku melongoknya itu, aku merasa cukup biasa.. nggak tersiksa, nggak merasa sebel, nggak juga merasa sakit.. bener-bener biasah ajah… Malah tak kukira, sedikit senyuman tersungging di bibirku.. Padahal masa laluku benar-benar menguras air mata dan ketegaranku.. alah!

Nggak tahu juga, mungkin waktu telah membasuh laraku.. atau waktu juga yang telah mengobati sakitku. Jadi, sepertinya memang benar apa yang kulakukan: MELUPAKAN SEMUANYA. Sepertinya bisa diterapkan buat teman-temanku yang mempercayaiku untuk memberikan saran pada masalah mereka.

Mungkin ada yang setuju ada juga yang enggak. Tapi aku lebih memilih seperti itu, menghapus apa yang pernah terjadi dari otakku. Ya, semacam amnesia gitu, walaupun ini adalah amnesia yang disengaja. Ada yang berpikir bahwa itu artinya menipu diri sendiri, karena toh pada kenyataannya memang pernah ada cerita itu di dalam jalan hidup kita, tapi emang kenapa? Saat kita ngetik, kalau salah bisa langsung di-Del dan di-rewrite, kenapa hidup kita enggak?

Okay, gag sesimpel itu emang, cuma buat analogi kok. Aku melakukan kesalahan terhadap kehidupanku, dan aku Del alias aku lupakan, lalu aku memulai dari nol lagi.  That’s better kan daripada aku harus merasa bersalah seumur hidupku dan kehidupanku nggak bisa bahagia?

Well… cukup bla2 nya.. Yang pasti apa yang kita lalui di masa lalu memang benar-benar bisa jadi pelajaran buat hidup kita selanjutnya. Kita bisa memilih untuk berbahagia dengan memaafkan diri kita sendiri, dan melupakannya, seperti aku. Lupakan aja yang jelek2, ngapain diinget2? Menuh2in kapasitas memori otakku, mending di-defrag dan akhirnya kelemotan otak bisa lebih berkurang… Hahahaha.. Keren banget analogiku..