Tag Archives: bilna

Menurut Saya, Memakai Sepatu Desain Sendiri Adalah…

…sebuah kebanggaan. Meskipun nggak ada yang bilang desain kita bagus, tapi tetep aja gitu, bangga, soalnya udah bisa ‘bikin’ sendiri, hihihi.

Masih ingat kan sama Star[t]s? Iya, itu desain sepatu pertama saya (dan sekarang udah buluk banget sepatunya wkwkwk). Jauh lah dari kata sempurna. Apalagi karena desainnya pake coret-coret asal dan ngasih ke pengrajinnya juga bukan dalam bentuk foto keren, tapi coret-coret itu difoto pake hape trus dikirim, ditambah lagi jarak saya dengan pengrajin bisa jadi satu jam perjalanan udara (melebaaaiii), akhirnya sepatu jadinya itu slightly different with the design.

Ah, tapi nggak apa-apa juga. Namanya juga eksperimen. Kalau nggak jatuh nggak belajar kan? 😀

Lalu akhirnya, saya pengen gitu desain lagi. Sempet ada beberapa ide desain berseliweran di otak, tapi pas mau gambar jadi lupa aja gitu :(. Lagian juga tangan ini kalau diajak gambar susahnya minta ampuuun, kaku gelak.

Padahal saya pengen bikin sepatu kembaran sama Zee. Jadi saya bikin desain sepatu standar sama desain sepatu anak. Desainnya sih kembaran biar kayak anak kembar #halah (nopek sadar! kamu emaknya Zee, bukan kembarannya! catet!). Tapi mungkin kalau sepatu anak harus lebih diperhatikan detail dan kenyamanannya kali ya. Pasalnya, kaki anak kan lebih rentan soalnya masih dalam masa pertumbuhan. Kalau sepatunya nggak nyaman, bisa-bisa kakinya sakit dan mengganggu perkembangannya lagi :(.

Lebaran sebentar lagi… kayaknya juga udah nggak keburu lagi bikin desain buat kembaran sepatu sama Zee di hari raya. Ya udahlah deh, kapan-kapan aja. Semoga bisa keturutan bikin desain sepatu emak dan sepatu anak-nya ;).

By the way, selamat hari anak, Asheraziza Cicely Cettapiaku tersayang! Bunbun loves you very very much!!! Mwah!

Menurut Saya, Menghadapi Tantrum Anak Adalah…

..kesulitan besar. Hiks.

#beibizee sekarang udah menginjak usia 20 bulan. Kata-katanya sih udah masa-masa tantrum terparah. Dan kayaknya sih… iya. 🙁

Sedih, bingung, jengkel, capek, cemas, takut, sampai hampir menyerah. Semua itu yang saya rasakan akhir-akhir ini saat menghadapi #beibizee kalau lagi kumat tantrum. Gejala-gejalanya bakal tantrum adalah mulai meminta sesuatu yang nggak jelas, berkali-kali diomongkan, ganti-ganti permintaan, minta A dikasi A malah minta B, dikasi B malah mulai menolak dengan suara keras. Lalu bisa ditebak setelahnya, nangis sambil jerit-jerit. Ampun!

Sampai sekarang, saya masih belum bisa dapet cara yang pas buat mengatasi tantrumnya #beibizee. Kalau dulu pas masi nenen, disodorin gentongnya sih bakal langsung bikin dia tenang, bahkan lalu bobok. Sayangnya, sekarang #beibizee udah nggak nenen. Pas tantrum, dikasih mimik dot pun nggak bakal diterima, pasti ditolak. Iya kalo ditolak baik-baik, nolaknya pake acara jejeritan seolah-olah sampe sekampung denger, aarrgh!

Usut punya usut, yang namanya tantrum ternyata memang salah satu fase yang akan dilewati oleh anak. Sejak usia 18 bulan hingga 3 tahun, anak mulai mengembangkan daerah otonominya yang membuat mereka akan menunjukkan berbagai perilaku: membangkang, keras kepala, menolak, bahkan marah. Dan ini rupa-rupanya juga dipengaruhi oleh karakter anak. Misalnya, kalau karakter anak cukup keras, bisa jadi lebih sering menunjukkan tantrum (yah, meskipun faktor-faktor lain juga amat berpengaruh).

Karakter anak sendiri akan mulai benar-benar tampak setelah dia berusia 2 tahun ke atas. Nanti kita bisa lihat dari sifat dan sikap mereka, apakah mereka berkarakter plegmatis, koleris, sanguinis, atau melankolis. Yah, #beibizee memang lagi bersiap-siap untuk membentuk karakternya, Nopek, jadi semangat terus ya, jangan menyerah menghadapi berbagai tantrumnya karena dengan begitu kamu akan bisa mengenal anakmu lebih dalam lagi, yosh!

Sedikit info tambahan tentang tantrum (sumber dari sini):

  1. Walaupun kemarahan adalah emosi yang jelas terlihat oleh orang tua, tantrum selalu merupakan campuran antara amarah dengan perasaan lain seperti frustasi atau panik.
  2. Tantrum biasanya dilakukan di hadapan Anda, sebagai orang tua, atau orang lain, yang dikenal dan dirasa aman oleh anak.
  3. Temperamen anak sangat menentukan. Anak yang aktif dan berkeinginan keras kemungkinan besar menunjukkan tantrum.
  4. Beberapa ahli memperkirakan satu di antara lima anak usia dua tahun menunjukkan tantrum dua kali dalam sehari. Namun jangan lupa, ini juga berarti empat dari lima anak usia tersebut tidak menunjukkan tantrum sebanyak itu.
  5. Jika ditangani dengan baik oleh orang tua sejak dini, tantrum semakin jarang terjadi saat anak tumbuh dewasa, dan yang paling buruk biasanya tidak lagi ditunjukkan saat anak berusia tiga atau empat tahun.
  6. Tantrum sering terjadi saat perasaan anak di luar kendali.
  7. Kira-kira tiga perempat dari semua tantrum terjadi di rumah, tetapi tantrum terburuk sering terjadi di tempat umum.
  8. Tingkah laku yang umum ditunjukkan saat tantrum terjadi antara lain berteriak, menangis, memukul, menendang, mengeraskan tangan dan kaki, menekuk tubuh ke belakang, menjatuhkan tubuh ke lantai, dan berlari.
  9. Pada tantrum yang parah, wajah anak bisa membiru, mual, atau bahkan menahan napas hingga kehilangan kesadaran tetapi refleks alaminya memastikan ia segera bernapas kembali sebelum membahayakan tubuhnya.
  10. Mayoritas tantrum merupakan ekspresi dari kehilangan kendali, yang merupakan tanggapan dari perasaan frustasi, ketidakberdayaan, dan kemarahan, dan terjadi karena kurangnya keterampilan anak untuk menghadapi perasaan ini

(Bukaan, ini bukan tantrumnya #beibizee. Ini pas dia lagi manis-manisnya, menari-nari dengan riang gembira nananana :D)

Dan saran menghindari tantrum (dari sumber yang sama):

  1. Mengalihkan perhatian. Saat merasa tantrum akan terjadi, Anda memiliki sedikit waktu untuk mengalihkan perhatian anak. Secepat mungkin tunjukkan mainan baru, atau tunjukkan kejadian yang sedang terjadi di luar rumah dengan mengatakan, “Sepertinya ada bus yang datang, yuk kita lihat”. Cara ini cukup manjur terutama pada anak kecil, walaupun anak usia tiga tahun ke atas tidak mudah tertipu dengan cara ini.
  2. Penggantian. Jika Anda langsung menawarkan mainan baru, anak dengan senang hati memberikan kunci yang Anda inginkan. Contoh lainnya memberikan kertas saat ia ingin menggambar di dinding rumah, atau majalah lama untuk ia sobek-sobek jika ia mencoba untuk menyobek koran Anda.
  3. Memperhatikan pola tingkah laku tertentu. Jika anak sering menunjukkan tantrum, sebaiknya Anda mencatat apa yang terjadi sebelum tantrumnya meledak, dan situasi seperti apa tantrum biasanya terjadi. Misalnya, jika tantrum sering terjadi saat anda menyiapkan makan siang, cobalah membiarkannya membantu Anda menyiapkan meja makan, atau memberikan mainan yang menarik sebelum Anda menyiapkan makanan.

Yah semoga saja pada akhirnya saya bisa menemukan formula yang tepat untuk meredakan tantrum #beibizee dan membuatnya bisa menyalurkan ‘unek-uneknya’ dengan lebih baik. Lagi pula, ini adalah masa-masa proses pembentukan karakter anak kan ya, di sinilah orang tua (baca: keluarga) sebagai lingkungan pertamanya berperan sangat penting. Bismillah!