Tag Archives: aimi

Menyadur Dengan Hati, Won’t You?

Masih ingat kan tentang semacam gonjangganjing di jagat perinternetan Indonesia soal artikelnya salah satu produk pewangi dan pelembut pakaian populer yang menyakiti hati para penggiat ASI? Artikelnya udah diturunkan sih, soalnya udah dapet protes dari sana-sini. Bukan, saya bukan mau membahas (kembali) soal bagaimana dangkalnya pembahasan dalam artikel itu atau kecurigaan orang-orang akan ada apa di balik artikel tersebut, bukan.. Tapi, first of all, mari kita tinjau sekilas tentang artikel itu.

Saya sendiri sebenernya belum sempat membaca artikel yang dikecam keras terutama oleh AIMI (Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia) itu, tapi dari hasil googling dan membaca tweet yang sliweran di timeline Twitter saya, saya pun bisa membaca artikel yang sudah dihapus dari tempat aslinya itu dalam bentuk screenshot. Tapi sudahlah, screenshotnya gak usah saya perlihatkan di sini, bisa kok disearch sendiri :P.

Beberapa bagian dari artikel yang memicu masalah adalah disebutkan beberapa kerugian menyusui (tidak bisa mengatur takaran susu yang seharusnya dikonsumsi bayi, menyusui bikin puting sakit, menyusui tidak bisa diwakilkan, dan ibu menyusui harus mengubah pola makan) pada artikel pertama dan dengan mudahnya ‘seolah mendorong’ para ibu untuk mengganti pemberian ASI dengan pemberian sufor pada artikel kedua.

Saya, sebagai salah satu dari ‘pasukan’ ibu menyusui (yang juga salah satu anggota milis asiforbaby yang dibuat AIMI) pun merasa like “What the..” saat membaca artikel-artikel itu. Kesan pertama saya: orang yang nulis ini pengetahuannya tentang menyusui dan ASI cetek sekali. Kesan kedua: jangan-jangan ini agen Sufor terselubung nih. Kesan ketiga: jangan-jangan salah nerjemahin nih?

Sebagai penerjemah, tak aneh tentunya kalau saya punya kecurigaan semacam itu. Apalagi, kedua artikel di atas ‘mengaku’ menyadur dari situs web berbahasa Inggris. Sayangnya, nggak ditunjukkan URL sumbernya sih, jadi saya kudu googling, menelusur, menjelajah, dan mencari, plus mengira-ngira artikel mana yang dijadikan bahan untuk membuat kedua artikel di atas.

Saat mencoba membuka url scot.nes.uk (yang diklaim merupakan referensi artikel pertama), ternyata yang muncul adalah laman mercusuar, yang artinya nggak ada alamat situs web kayak gitu. Akhirnya saya googling dan mendapatkan alamat www.nes.scot.nhs.uk. Yakin nggak yakin, saya coba search artikel yang terkait dengan ‘breastfeeding’ dan mendapatkan artikel berjudul Pharmaceutical care of breastfeeding mothers ini. Di situ terlihat jelas kalau artikel itu membahas soal keutamaan menyusui.

Tertulis

Breastfeeding is recognised as having many health advantages for mother and baby. The pharmacist’s public health role may involve the promotion of breastfeeding as well as being able to offer practical advice and guidance towards further support mechanisms, for any difficulties which may arise.

di sana.

So, I didn’t search more in that site. Mungkin terlalu cepat, tapi intuisi saya mengatakan bahwa artikel yang mendeskreditkan kegiatan menyusui seperti di artikel (1) di atas tidak akan ditemukan. Nah, kecurigaan saya akan kesalahan penerjemahan semakin meningkat.

Lalu saya mencoba googling workingmoms.about.com (yang diklaim merupakan sumber penyaduran artikel kedua), kembali mencari artikel di dalamnya dengan kueri “breastfeeding” dan menemukan artikel berjudul How to Succeed at Breastfeeding and Working ini. Saat saya menelusuri di situ, nggak ada lagi artikel yang berbau breastfeeding dari situs workingmoms.about.com selain ini, jadi saya cukup yakin (walau nggak 100%) kalau ini artikel yang dijadikan referensi untuk artikel (2).

Setelah membacanya, nggak ada kok kontennya yang menganjurkan para ibu untuk tidak menyusui (atau yang menurut penulis artikel (2) itu ‘Jangan Paksakan Diri Anda’), malahan isinya adalah kiat untuk bisa pumping dengan nyaman. Tapi mungkin, yang dijadikan dasar tulisan artikel (2) itu adalah bagian ini:

Don’t Exhaust Yourself
The saddest thing you could do in a quest to extend breastfeeding would be to become obsessed with your milk supply and miserable. Give yourself a break.
Maybe you end up supplementing with formula. It’s a perfectly healthy way to feed your child. Any amount of breast milk you’re able to make is better than nothing, and will give your baby wonderful nutrition and immunity protections.

Okay, saya sudah bilang ya kalau nggak 100% yakin bahwa yang saya temukan itu adalah yang dijadikan referensi saduran untuk dua artikel di atas. Tapi, kalau memang itu, sepertinya kesalahan penulis adalah hanya menangkap sebagian konten dan membuang konten lainnya, padahal konten itu adalah sebuah kesatuan yang tidak bisa diambil sepotong saja.

Definisi ‘saduran’ menurut Kateglo adalah 1 hasil menyepuh; sepuhan (emas, perak, dsb); 2 hasil menggubah; gubahan bebas daripada cerita lain tanpa merusak garis besar cerita; 3 ringkasan; ikhtisar (laporan dsb).

Abaikan definisi pertama karena tidak sesuai dengan konteks pembahasan. Sesuai dengan definisi kedua dan ketiganya, kalau penulis mengaku menyadur dari sumber tertentu dan me-rewrite-nya jadi artikel baru, seharusnya dia merangkum seluruh isi artikel sumber dan menjadikannya tulisan yang tidak mengubah garis besar konten referensi. Kalau penulis hanya menerjemahkan sebagian lalu menjadikannya tulisan baru yang tidak mencerminkan isi referensi, seharusnya bagian yang diterjemahkan itu dijadikan quote aja.

Ya gitu deh, bisa jadi penulis memang hanya ‘menculik’ sebagian konten sumber dan ‘meraciknya’ jadi tulisan baru yang (menurut saya) tidak etis. Kenapa tidak etis? (1) You should never write something that you don’t even understand. Dalam kasus ini, terlihat jelas kalau penulis tidak memahami apa itu ‘menyusui’ jadi bisa dengan mudahnya menuliskan ‘kerugian’ menyusui yang sumpah yaaaa, konyol banget, bhahahahahaaakkkk. Tidak ada orang yang menggantikan Anda menyusui bayi katanya? Wakakakaka, la ya mesti taaa, emang pas hamil juga bisa digantikan orang lain apa? Duuuuu.. buset dah, bodo banget sih -ups, keterusan, maap, lanjut poin dua aja deh; (2) Karena mencomot sebagian kecil artikel orang dan menghilangkan bagian terkaitnya yang penting itu misleading. Kalau membaca sumber-sumber yang sudah saya googling, kalian pasti bisa menyimpulkan sendiri.

Saya ingat presentasi salah satu master penerjemah di Indonesia, Pak Sugeng, di acara HPI Komda Jatim beberapa waktu yang lalu, bahwa kita harus Translating with Heart. Misalnya, kalau kita baca majalah luar negeri, saat mereka membahas soal seks, it’s normal when they say, “having sex with your boyfriend”. Sementara, saat artikel tentang seks itu dijadikan sumber untuk menulis artikel dalam bahasa Indonesia, it’s absolutely not okay to say “saat Anda bercinta dengan pacar Anda”. Ya, considering the culture and norms in Indonesia, it is unacceptable. Jadi, terjemahkanlah kalimat itu dengan hati, jangan ‘cuma’ menerjemahkan saja, lokalkan, paling nggak kita bisa menuliskannya jadi “saat Anda bercinta dengan pasangan Anda” atau malah dengan gamblang dijadikan “saat Anda bercinta dengan suami Anda”.

Nah, jadi kalau menyadur, sadurlah juga dengan hati. Jangan cuma asal comot demi memperkaya keyword dan meningkatkan page view tapi lalu menjadikannya saduran misleading yang tidak sesuai dengan sumber, apalagi kalau artikel dibuat untuk konsumsi masyarakat luas semacam itu.

Dan kasus ini ditutup dengan permintaan maaf dari di akun Twitter produk pewangi dan pelembut pakaian tersebut yang berjanji akan lebih jeli dalam menyajikan informasi kepada masyarakat.

Zizii: Greatest Birthday Gift

Alhamdulilah… Kata itulah yang pertama terucap dari mulut saya saat Dokter mengatakan bahwa bayi saya sudah lahir: “Bayinya sudah lahir, Bu, perempuan.” Dan saya sempat mendengarkan tangisannya yang membahana, dua kali oek-oek saja, lalu saya kembali mengantuk teramat sangat, mungkin karena sedikit terpengaruh bius.

Iya, saya akhirnya melahirkan melalui operasi caesar. Soalnya udah sakit banget banget banget dan ketuban pecah, eh saya masih bukaan satu saja. Akhirnya saya minta dicaesar saja sambil nangis-nangis. Saking sakitnya proses mau melahirkan itu, sampe kegiatan suntik menyuntik, masang infus, suntik tes alergi, sampek suntik bius di punggung bener-bener nggak kerasa sakit sama sekali. (Langsung sungkem ke emak.. Emaaaak.. I love you to the max!!! Maapin anakmu inii.. Baru mau lahir aja udah bikin atiiitttt!! Oh the pain is like forever.)

Dan taraaa.. akhirnya putri saya lahir ke dunia pada hari Selasa, 6 November 2012, jam 7.15 pagi. Dan dia cantik banget masyaAllah…. Kulitnya putih, rambutnya hitam tebel, gondrong lagi, bibirnya mbentuk kayak bibirnya Cinta, eh eh ada lesungnyaa di kedua pipinyaa.. Kami namakan dia Asheraziza Cicely Cettapia, panggilannya Zizii atau Zee gitu aja juga boleh.

Continue reading Zizii: Greatest Birthday Gift