Jadi Cantik Itu Sakit

No Pain No Gain, itu kata sebuah peribahasa yang terus saja dikumandangkan saat harus bersakit2 dahulu untuk mendapatkan kesenangan kemudian. Dan ternyata, jadi cantik pun juga harus bersakit-sakit dulu.

Berawal dari hadiah voucher dari sebuah klinik kecantikan, aku yang emang suka nyalon2 gitu seneng banget soalnya dapet voucher facial. Enak kan gratis, bikin kulit muka kinclong. Secara, kalau diitung-itung udah berbulan-bulan aku nggak sempat facial. Dan setelah aku nggak cocok pake bedak (yang ternyata emang amat berat kandungannya buat kulit mukaku yang -lagi2- ternyata sensitif ini), kulitku yang tadinya cukup mulus jadi mrintis2, parahnya, tiba2 suka muncul jerawat yang susah sembuh di bagian2 yang sebelumnya tak pernah terkontaminasi jerawat.. *doh*

Akhir-akhir ini, saat aku kembali ke kosmetikku yang dahulu, akhirnya mrintisku emang nggak seberapa banyak. Plus ditambah voucher facial, lengkaplah perawatan mukamu — pikirku saat itu.

Setelah melakukan reservasi yang cukup njelimet — kudu mencocokan waktu luang, pekerjaan kudu diselesaikan, dan bla-bla-bla yang lain — akhirnya berangkatlah aku bertiga sama teman2ku ke klinik kecantikan itu.

Dan, aku sebenarnya tau kalau facial itu pasti agak sakit, soalnya kan kulit kita dipencet2 gitu biar komedo segala macam bisa ilang, tapi aku benar-benar nggak menduga bisa sesakit ini!!

Facialku yang dulu-dulu enggak sesakit ini… huhuhuhuhu….

Tapi kali ini, ternyata facialku amat sangat menyiksa sekali. Entah apakah salon yang biasa kukunjungi facialnya memang nggak suka menyiksa, entah gara2 kulit mukaku lagi parah banget komedo dan jerawatnya. Akhirnya pulang facial, mukaku bentol2 kek disengat tawon… wuuuaaa… injured injureeeed… mamaaaa…. atiiiit… huahuahuahuahuaa….

Yah, memang cuma sebentar doang sih atitnya, injured nya juga udah mulai sembuh.. dan wajahku emang lebih kinclong daripada sebelumnya :D.. Tapi… ini nih yang namanya no pain no gain… *literally!!* Setelah bersakit-sakit dipencetin, akhirnya kulit bakal lebih cantik…

Temen kantorku satu lagi juga gitu, dia milih back treatment, dan segala noda yang ada di punggungnya sama diilangin juga, tapi lebih menyakitkan karena pake kater listrik!! Wuakakakaka… dia malah lebih jejeritan daripada aku… Duh… nggak mbayangin aku.

Last word: Jadi Cantik itu Sakit!! *padahal udah cantik lo qiqiqiqi *narsis mode on**

Melongok ke Masa Lalu

Tak dinyana tiba-tiba aku melihat masa laluku… (yeah i know ini majas totem pro parte… sebutin semuanya padahal cuma merujuk pada sebagian ajah,,, oke oke hiperbolis.. padahal itu dua majas yang berbeda lowh). Sebenarnya tiba-tiba mataku menatap sesuatu.. dan akhirnya mau tak mau aku harus melongok sebentar ke masa laluku..

Kalau dianggap indah nggak juga, dianggap nggak indah, ada indahnya sii.. (dikiit.. hehe). Cuma aku cukup tersentak saja karena saat aku melongoknya itu, aku merasa cukup biasa.. nggak tersiksa, nggak merasa sebel, nggak juga merasa sakit.. bener-bener biasah ajah… Malah tak kukira, sedikit senyuman tersungging di bibirku.. Padahal masa laluku benar-benar menguras air mata dan ketegaranku.. alah!

Nggak tahu juga, mungkin waktu telah membasuh laraku.. atau waktu juga yang telah mengobati sakitku. Jadi, sepertinya memang benar apa yang kulakukan: MELUPAKAN SEMUANYA. Sepertinya bisa diterapkan buat teman-temanku yang mempercayaiku untuk memberikan saran pada masalah mereka.

Mungkin ada yang setuju ada juga yang enggak. Tapi aku lebih memilih seperti itu, menghapus apa yang pernah terjadi dari otakku. Ya, semacam amnesia gitu, walaupun ini adalah amnesia yang disengaja. Ada yang berpikir bahwa itu artinya menipu diri sendiri, karena toh pada kenyataannya memang pernah ada cerita itu di dalam jalan hidup kita, tapi emang kenapa? Saat kita ngetik, kalau salah bisa langsung di-Del dan di-rewrite, kenapa hidup kita enggak?

Okay, gag sesimpel itu emang, cuma buat analogi kok. Aku melakukan kesalahan terhadap kehidupanku, dan aku Del alias aku lupakan, lalu aku memulai dari nol lagi.  That’s better kan daripada aku harus merasa bersalah seumur hidupku dan kehidupanku nggak bisa bahagia?

Well… cukup bla2 nya.. Yang pasti apa yang kita lalui di masa lalu memang benar-benar bisa jadi pelajaran buat hidup kita selanjutnya. Kita bisa memilih untuk berbahagia dengan memaafkan diri kita sendiri, dan melupakannya, seperti aku. Lupakan aja yang jelek2, ngapain diinget2? Menuh2in kapasitas memori otakku, mending di-defrag dan akhirnya kelemotan otak bisa lebih berkurang… Hahahaha.. Keren banget analogiku..

The Slumdog Millionaire

Apa yang akan terlintas di pikiranmu saat mendengar kata “film India”? Rahul – Anjeli? Joget-joget, nari-nari, puter-puter? Nyanyi-nyanyi? Inspektur korup? Penjahat yang gampang mati sementara si lakon yang udah ketembak berapa kali pun gag mati-mati? Sahrukh Khan, Amitabh Bachchan, Rani Mukherjee, Kajol, Aiswarya Rai? Kuch Kuch Hota Hai? Bajaj? Sungai Gangga dan cinta yang pasti menang?

Mungkin saja karena waktu jaman film India lagi booming, hmmm… ya begitu itulah tema yang banyak beredar. Walau tak bisa dipungkiri aku juga suka Kuch Kuch Hota Hai, Mohabbatein, Kabhi Kushi Kabhi Hum, Kal Ho Na Ho, sampai yang terakhir aku nonton Kabhi Alvida Na Kehna yang udah nggak seberapa bagus menurutku. Lalu saat film India sepertinya sudah sampai pada titik jenuhnya, muncul film Slumdog Millionaire, yang tak dinyana begitu sensasionalnya sampai memboyong delapan penghargaan bergengsi di ajang Academy Awards ke-81 alias Oscar 2009, 22 Februari 2009 kemarin.

Aku baru nonton Slumdog H-1 perhelatan besar Oscar itu, dan aku benar-benar terkesan. Nggak salah deh kalau tuh film bener-bener jadi film terbaik 2008.

Ceritanya sendiri berpusat pada Jamal, seorang anak India miskin yang jalan kehidupannya amat membuat merinding, penuh petualangan, kekerasan, slumdog..

Jamal yang mengikuti kuis Who Wants to be a Millionaire versi India dianggap curang karena bisa menjawab semua pertanyaan yang diberikan. Jamal dibawa ke kantor polisi dan terungkap biadabnya perlakuan polisi India (atau mungkin juga di negara2 lain yang belum terungkap) untuk membuat (atau memaksa?) Jamal mengaku bahwa dia memang berbuat curang.

Namun di situlah terungkap sketsa-sketsa hidup Jamal yang membuatnya bisa mengetahui jawaban setiap pertanyaan yang diberikan padanya. Bagaimana dia tinggal dengan ibunya dan kakaknya, Salim, di daerah kumuh India (yang tak pernah ditunjukkan film-film cantik penuh cinta khas Bollywood) hingga suatu hari daerah itu diserang oleh kelompok Hindu (ingat2 sejarah India saat ada clash antara kaum Muslim dan Hindu, kebetulan Jamal dan keluarga adalah orang Muslim) dan menewaskan ibunya. Bagaimana dia akhirnya menjadi gelandangan pemungut sampah bersama Salim dan Latika, wanita yang selalu dicintainya, dan dipungut oleh ‘dewa penolong’ yang ternyata sekejam iblis. Bagaimana dia terpisah dengan Latika, bertemu lagi, lalu kemudian terpisah lagi, dan bertemu lagi. Dan bagaimana-bagaimana yang lain yang kemudian membuat Jamal berhasil memenangkan 2 miliar rupee dan bersatu dengan Latika.

Tetap soal cinta, namun konflik dan perjalanan yang mereka lalui, membuka realita kehidupan India, perkampungan kumuh, tempat cuci massal, pembunuhan karakter dengan uang, wanita, uang, uang, uang, polisi, uang, uang, uang, pencurian, copet, uang, uang, uang, kepalsuan, usaha menaikkan rating, uang, uang, uang…. Hingga akhirnya ditutup dengan lagu terbaik pilihan juri Oscar 2009: Jai Ho.

But one thing 4 sure, nggak bakal rugi nonton film besutan Danny Boyle ini. Satu, menambah pengetahuan. Dua, bisa hati2 kalau mau pergi ke India, jangan ketipu ama film khas Bollywood-nya deh. Tiga, sadar bahwa manusia itu harusnya dinamakan Homo Economicus, bukan Homo Erectus (karena ternyata uang memang berkuasa.. ah ngomongin uang bisa panjang). Empat, kamu bisa cari sendiri kalau udah nonton film yang bikin Dev Patel dan Freida Pinto jadi tenar di Hollywood dan bikin pemeran Jamal dan Latika cilik punya rumah ini.

Mengolah Kata yang Tak Gampang

Mencoba merangkai kata-kata. Mengingat-ingat apa saja yang ingin dicurahkan di atas tabula rasa. Dari mulai saat duduk di depan komputer kantor, segala pemikiran dan perasaan yang ada – semangat, malas, tak suka, lucu, konyol, sebel, kesepian, sendiri, diperhatikan, dicueki, dipercaya, diremehkan – sampai saat dijemput, merasa disayangi, melewati jalan yang sama tapi kesannya tak selalu sama dengan orang-orang, suasana, jam, keadaan yang tak sama, dan melewati ATM yang pintunya entah kenapa selalu terbuka sekarang ini, entah rusak, entah sengaja dibuka agar di dalamnya tak terasa sebeku kamar mayat, sampai berada di rumah dengan segala kenyamanan, keramaian, keunikan, kekonyolan, kemalasan, sayang, cinta, kehangatan… dan duduk di depan komputer pribadi yang tak lagi pribadi karena berbagi dengan adikku…

Perasaan-perasaan yang selalu sama, itu-itu saja, tapi kesannya tak pernah sama karena terjadi di tempat, di waktu, di keadaan, pada orang yang selalu berbeda permutasi dan kombinasinya. Entah kenapa pada waktu datang bulan selalu perasaanku menjadi lebih sensitif dari biasanya hingga rasa-rasa yang biasanya juga sekedar lewat bisa amat terukir dalam di otakku.

Kesukaan dan ketidaksukaanku tak lagi bisa dianggap penting di dalam kehidupan sekarang. Semakin lama duniaku semakin luas dengan orang-orang yang semakin bertambah banyak, beraneka ragam, dengan pemikiran yang kadang tak pernah kumengerti walau sudah berusaha begitu keras. Percuma berusaha membuat mereka juga mencoba mengerti karena toh jarang ada yang benar-benar peduli, jadi kenapa juga harus membuang energi untuk benar-benar peduli.

Kadang benar-benar ingin membuka bungkus dan menunjukkan beginilah sebenarnya yang tidak pernah dilihat dengan mata telanjang. Namun terlalu lelah berusaha ternyata membuat sel abu-abu otak berhenti berjalan, jadi numb. Mungkin memang pantas meremehkan karena belum benar-benar mengenal, dan tak kenal maka tak sayang kan? Atau mungkin sudah ilfil duluan untuk mencoba lebih kenal, ya udah nggak perlu repot-repot. Tak ada yang memaksa untuk benar-benar mengenal, karena kalau sudah saatnya dikenal pasti akan tahu sendiri.

Benar memang kata guru-guru dulu kalau kehidupan di dunia itu jauh lebih keras, amat-amat lebih keras, berkali-kali lebih keras dari dunia sekolah, bahkan kuliah yang katanya amat individualis itu. Tak ada nilai yang tercatat di sebuah buku rapor atau lembaran kertas berisi IP di mana kita bisa melihatnya sebagai sebuah cerminan mana yang harus diperbaiki mana yang harus dipertahankan mana yang harus ditinggalkan mana yang harus dikejar. Tak ada gunanya juga meminta semuanya untuk jujur berkata begini jangan begitu, itu bukan ini, a bukan b karena kita diberi otak untuk terus berpikir dan memilih tanpa diberi tahu mana pilihan yang benar dan mana yang benar-benar bukan pilihan.

Kadang itulah gunanya punya seseorang yang benar-benar dekat walau kalau dipikir juga nggak terlalu dekat. Sebagai sandaran sesaat saat benar-benar merasa tertekan, ditekan, menekankan walau gagal. Yang bisa membuat tersenyum, cekikikan, bahkan tertawa, menertawakan hal yang nggak penting, atau mungkin penting tapi bisa ditertawakan tanpa mengikis stuff kepentingannya. Merasa dipikirkan, walau entah memang dipikirkan seperti aku memikirkannya atau tidak, mencoba menatap masa depan yang jujur belum pernah terpikirkan akan benar-benar seperti apa.

Sempat terpikir jika kehidupan yang dulu terasa lebih baik dibanding yang sekarang. Nampaknya dulu itu benar-benar terarah, benar-benar disayang, benar-benar dipikirkan. Aku tahu apa yang dikerjakan dan aku mengerjakan apa juga diketahui, walau mungkin ternyata mudah sekali ditinggalkan dan dibuang. Jadi sebenarnya itu juga superfisial, mending seperti sekarang kalau ternyata malah berhasil karena tidak terlalu menjadi beban.

Aah… beginilah jadinya kalau berniat ingin cerita tapi tak bisa mengurai kata-kata. Ingin menjelaskan yang bergejolak di otak, di hati, di dada, di perut, membuat tenggorokan tercekat dan mata berkaca-kaca walau yang keluar malah seringai dan sunggingan kecil seperti meremehkan yang terjadi. Bukannya aku tidak memikirkan, tapi aku rasa aku nggak sanggup memikirkan, jadi biarlah saja. Aku tahu jika tiba waktuku aku bisa bahagia… Kalimat klise yang selalu kuulang-ulang, tapi kekuatan percaya – katanya – incredible, jadi ya aku percaya kok memang ada saatnya untuk itu.

Not the world but my eyes. Not a thought but my opinion.

%d bloggers like this: