Sejauh pengetahuan saya, smiley
artinya adalah senyum. Dulu mungkin arti itu ya sebegitu sederhananya, just a merely smile. Senyum karena menyetujui sesuatu, senyum karena bersikap ramah sama seseorang, senyum karena tidak pantas memberikan smiley
yang artinya merenges karena senyum terasa jauh lebih sopan daripada cengengesan.
Sementara itu, smiley juga punya berbagai macam ekspresi wajah lainnya.
untuk sedih atau tidak terlalu senang dengan sesuatu,
untuk speechless, X-( untuk marah, dan bahkan i-) untuk tidur. (Okay, ini mungkin bukan simbol internasional ya, paling enggak, ini adalah simbol yang digunakan di Yahoo! Messenger.)
Tapi mungkin memang dunia sudah semakin berkembang. Bahkan simbol
pun sekarang memiliki arti yang bermacam-macam. And unfortunately, sometimes I think it’s not so appropriate.
Entahlah, maybe it’s just me, tapi saya merasa gatal saat membaca beberapa status jejaring sosial orang-orang di sekitar saya. Sudah bukan rahasia umum lagi jika jejaring sosial sering dijadikan ajang mengeluh dan marah-marah, saya juga kok hehehe. Nah, yang saya nggak ngerti, sekarang kayaknya lagi musim ya marah-marah sambil senyum
.
Kayak pernah saya membaca tweet seseorang, dia kayak-kayaknya lagi nyumpahin mantan pacarnya. Tahu sendiri kan gimana kalo kita lagi sebel-sebelnya sama yang namanya mantan dan bawaannya pengen makan orang. Nah, kira-kira seperti itulah keadaan si penulis tweet. Tapi kesan yang saya tangkap jadi lain setelah saya melihat ada smiley
di belakang kalimat yang bisa dianggap cukup kasar itu.
Ya, meski tidak begini, anggap saja kalimat itu semacam begini: “Titenono ae koen mben yo. Kamu akan merasakan apa yang kurasakan
”

























Recent Comments