What I Like: Menurut Saya, Singapura Adalah…

… negara yang sangat teratur. Transportasinya teratur, jalanannya teratur, buang sampahnya teratur, ngerokoknya teratur, bahkan jongkok aja sampe diatur. Buat saya yang kalo ikutan kuis-kuisan kepribadian suka dapet hasil idealis dan suka dengan segala sesuatu yang teratur, Singapura semacam surga.

Menyenangkan banget kan lihat orang-orangnya pada menjaga kebersihan, menaati rambu-rambu lalu lintas, sekenceng apa pun kendaraannya tapi tetep langsung berhenti saat ada lampu merah dan nggak pake klakson-klakson berisik padahal belum juga lampu merahnya ganti jadi lampu ijo, nggak bergerombol di depan pintu keluar kendaraan umum, selalu memberikan jalan di sebelah kanan di tangga berjalan buat orang yang lebih terburu-buru, selalu tepat waktu, dan selalu mau antri tanpa kudu dipelototin, dan lain-lain sebagainya.

Yah, itu lah yang saya suka dari Singapura. Meskipun nggak sejuk kayak di Batu, tapi saya ngerasa kalo udaranya semacam lebih bersihan gitu ya. Yeah well, mungkin perasaan saya aja sih, tapi saya pake softlens seharian nggak ngerasa pedes tuh mata saya (eh, tapi mungkin ini juga karena saya nggak melototin komputer seharian kayak biasanya sih hahaha).

Yang bikin saya amat melongo saat ke Singapura adalah pengaturan transportasinya, iya, itu si MRT, yang nge-link ke sana ke mari. Semuanya seakan terhubung, ke sana, ke sini, dengan satu kartu ajaib yang namanya EZ Link, semua jadi serba mudah (yah pokoknya selalu keisi aja sih saldonya, ngehehe). (Dan sama guide saya dibilang “Ini mah masih sederhana. Coba kalo kamu ke Jepang, di situ jauuuh lebih njelimet lagi!” Oh wow, harus bener-bener jeli melihat petanya kalo begitu, eh, kapan emang mau ke Jepang? Kapan, pek? Kapaan?)

waiting for MRT to come, garis merah itu batas menunggu, penumpang yang mau naik nggak boleh berada di antara dua garis merah itu

Kartu sakti #ezlink #singapore #SquareInstaPic

A photo posted by Noviana Indah (@nophindahoz) on

Saya juga sempet tanya ke Guide saya, “Kok bisa ya di sini semuanya teratur gitu? Padahal nggak ada peraturan tertulis, nggak ada juga yang jaga gitu, tapi kok ya selalu ambil sisi kiri di eskalator, nggak dipenuhin? Semacam kesadaran gitu ya?”

Guide saya bilang, “Budaya kayaknya.”

Iya, budaya. Membudayakan sesuatu yang baik. Memang mungkin terasa mempersulit atau memperberat pada awalnya, tapi toh itu untuk kebaikan kita juga. Nggak mau kan ya pas kita keluar dari kendaraan umum malah akhirnya kedorong ke dalam lagi karena banyaknya gerombolan orang yang mau masuk? Nggak mau kan pada akhirnya terlambat gara-gara orang di depan kita nggak mau minggir pas di eskalator? Nggak mau kan pas kita enak-enak jalan di jalanan umum tapi kehalang orang yang jongkok-jongkok gitu? Nggak mau kan nggak bisa nyebrang di jalanan gara-gara mau lampu ijo kek mau lampu merah kek tetep aja kendaraan pada seliweran? Nggak mau kan diberisikan klakson di belakang kita pas detik-detik terakhir lampu merah?

Sudah saatnya kita semua belajar, bukan cuma saya, bukan cuma kamu, atau dia, tapi semua. Bisa nggak ya?

6 thoughts on “What I Like: Menurut Saya, Singapura Adalah…”

    1. Iya, denda, dan kesadaran untuk menahan diri agar ga terkena denda juga sih, imho. Di sini juga banyak dendanya kan, tapi tetep ae, hahahahaaa… Dadi ga semata denda aja.

Leave a Reply