Category Archives: as a translator

Menurut Saya, Saya Lima Tahun Mendatang Adalah… [Casa Elana for IHB Blog Post Challenge]

…orang yang jauh lebih sukses dari sekarang. I know a lot of people merasa kalau ukuran sukses adalah banyaknya uang yang dipunya. Walaupun nggak sepenuhnya nggak setuju (I know I have to be realistic, nggak semua yang kita inginkan bisa terwujud tanpa adanya uang), tapi kesuksesan tercipta dari beberapa hal yang saling berpadu.

Kalau buat saya, sukses adalah bisa melakukan yang kita sukai bersama orang yang kita sayangi, tanpa takut kehabisan waktu, energi, dan resources. Entah kalau kamu.

Yang pasti, ada lima impian yang saya punya untuk dicapai maksimal dalam lima tahun ke depan, bismillah semoga bisa ya Allah!

1. Bikin clothing line.

Ini sih benernya cita-cita sejak dulu, bahkan waktu SMP saya udah ikutan keterampilan Tata Busana lho! Sayang nggak ditelatenin dan dikembangkan dan baru-baru ini aja ditekunin beneran. My mantra: if i want to do something, i want to do it best. Karenanya saya sampai bela-belain belajar gambar fashion juga selain belajar mecah pola karena saya pengen pengetahuan yang sedalam-dalamnya.

Untungnya saya ketemu sama orang yang passionnya sama. Dia @rhefaraa yang juga suka desain dan jago foto (tuh #ootd saya di Instagram siapa lagi yang moto kalo bukan dia hehe). Kami berdua sudah punya timeline untuk bikin merek baju sendiri, tahun ini, paling ga nanti pas lebaran kita pake baju bikinan kita sendiri lah.

Saya nggak mau kalah gitu sama brand-brand Indonesia yang keren-keren dan kuat banget brand visibility-nya. Salah satunya adalah Casa Elana, yang bajunya saya pake di foto #ootd ala-ala saya di bawah ini :D. (Kalau mau tahu koleksi baju-baju Casa Elana yang nggak biasa, cek blognya deh di http://www.casaelana-shop.com/)

#latepost buat #DandanSenin jadi #dandanselasa deh bhuhuhu.. #SquareInstaPic @dandansenin @kuningan_city @wondershoe

A photo posted by Noviana Indah (@nophindahoz) on

2. Build my own company.

Selain punya passion di bidang fashion, saya juga cinta dengan profesi saya sebagai penerjemah. Dan sebagai seorang profesional, ujian terbesarnya adalah mendirikan perusahaan sendiri, nggak lagi ikut orang.

I have built my start-up company with my husband. Namanya BRIDGE. Masih bayik banget, kliennya pun sebenernya bukan lihat bridge ini, tapi menghubungi saya atau Cinta lewat ProZ ataupun LinkedIn atau sihapei atau menjawab lamaran yang saya kirim. Semoga si bayi lekas berkembang ya.

3. Have a second child.

Waktu awal menikah dulu kami sudah merencanakan untuk punya dua anak saja. Dan jaraknya yang paling pas adalah 4 tahun. Putri pertama saya, #beibizee, udah 2,5 tahun dan bakal 3 tahun di 2015 ini, jadi it’s time to start the program. Rencananya sih pengen anak cowok setelah yang pertama cewek, biar pas. Semoga keturutan ya.

4. Working at home.

Sebenernya impian ini berkaitan dengan impian nomor 2. I’m planning to handle the company from home so that saya masih bisa terus mengawasi anak-anak saya dan melihat setiap saat bagaimana mereka berkembang. Yeah i know it will be hard, but i must disciplining my self for that.

5. Belajar masak. Masak yang sehat. #cleaneating.

Like my mantra yang saya sebutin di atas, kalau saya pengen melakukan sesuatu, saya harus melakukannya dengan benar, jadi saya harus mempelajarinya dari dasar dan benar-benar menguasainya.

Impian yang satu ini sebenernya berawal saat saya pada akhirnya mengunjungi Instagram Sophie Navita (I believe there is no coincidence in this world, jadi ini memang sudah diatur sama Tuhan agar saya tergerak untuk masak, wkwkwk). Sebenernya kangen aja sih lihat Mbak Sophie, lebih karena dulu pas SMA, pas zaman-zamannya ada film seri Lupus yang bintangnya Irgy Fahrezy (dang! ketauan deh kalo angkatan lawas wkwkwk), saya dipanggil Happy karena katanya mirip sama Mbak Sophie ini. Saya sih seneng-seneng aja, entah Mbak Sophie-nya gimana hahahaha.. Okay, back to the topic, lalu saya jadi tertarik sama hashtag yang sering dipake di IG itu, something like this: #indonesiamakansayur a #plantbased eating community in #indonesia #powerbyplants #plantstrong #herbivore #eeeeeats #foodstagram #foodmatters #foodsustainibility #cleaneating #buatsendirimakananmu #kembalikedapuryuk.

Lalu saya penasaran dong yaa… Sebagai orang yang susah banget makan sayur, saya lihat makanan yang disajikan Mbak Sophie terlihat begitu menggoda dan sepertinya lezat. Mungkin itu yang harus saya contoh biar saya bisa seneng makan sayur, dan yang lebih penting lagi, bisa menyehatkan keluarga saya. That’s it! Lalu ini jadi salah satu list impian saya: bisa masak #cleaneating. (Tapi kalo vegan beneran saya ngeri, saya sih sepertinya akan meningkatkan konsumsi sayur, begituh.)

Lalu kalau kamu, apa impianmu? Don’t be afraid to make it big and share it. Bahkan blog Indonesian Hijabblogger juga mengajak kita buat sharing impian lho! Cek deh di blognya di http://indonesian-hijabblogger.com/.

NB: Tulisan ini diikutkan dalam Casa Elana for IHB Blog Post Challenge.

Menurut Saya, Hari Penerjemahan Sedunia Adalah…

..hari yang tepat untuk kembali menegaskan bahwa profesi penerjemah bukanlah profesi yang pantas dipandang sebelah mata. Eh iya sih, nggak ada kali profesi yang boleh disepelekan. Tapi ada, ada segelintir orang, atau beberapa gelintir, atau sebut saja oknum yang sering kali menyepelekan penerjemah.

Sepertinya memang itu sudah ditanamkan sejak dahulu kala di lingkungan sekitar saya, atau mungkin di negara saya ini, bahwa pendidikan bahasa itu nggak perlu lah terlalu ditekankan. Bahkan ironisnya, sering kali kelas Bahasa di SMA-SMA itu dimahfumi sebagai kelas buangan. Ah, itu zaman saya dulu sih, semoga sekarang sudah berubah.

Kembali ke profesi penerjemah.

Buat saya, menerjemah adalah sebuah seni. Seni melokalkan sebuah informasi yang sebelumnya tidak dimengerti menjadi info bermanfaat yang mudah dipahami. Karena itulah, menerjemah tidak hanya sekadar mengganti-ganti kata-kata dalam bahasa lain menjadi kata padanannya dalam bahasa native, tapi lebih seperti menuliskan kembali kata-kata itu dalam bentuknya yang paling mudah dibaca, dimengerti, dan dipahami. Dan selain kemampuan, menerjemah juga butuh kerja keras dan pembelajaran, serta latihan. Tidak mungkin hasil penerjemahan kita langsung begitu kerennya tanpa kita melalui proses latihan dan pembelajaran terus menerus. Ya, semacam ‘kalau nggak kotor, nggak belajar’, gitu deh.

Karena menerjemah itu nggak gampang, pantas dong biaya jasa menerjemahkan tidak murah. Lalu, berapa sih standar biaya jasa menerjemahkan itu? Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI) sudah memiliki acuan dasar tarif penerjemahan yang ditentukan berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan PMK No. 53/PMK.02 Tahun 2014 Tentang Perubahan Standar Biaya Masukan Tahun Anggaran 2015 yang mengatur Satuan Biaya Penerjemahan dan Pengetikan (halaman 56 butir 5), yang bisa dilihat di bawah ini.

Sumber: HPI

Selamat Hari Penerjemahan Sedunia! Happy International Translation Day!

Menyadur Dengan Hati, Won’t You?

Masih ingat kan tentang semacam gonjangganjing di jagat perinternetan Indonesia soal artikelnya salah satu produk pewangi dan pelembut pakaian populer yang menyakiti hati para penggiat ASI? Artikelnya udah diturunkan sih, soalnya udah dapet protes dari sana-sini. Bukan, saya bukan mau membahas (kembali) soal bagaimana dangkalnya pembahasan dalam artikel itu atau kecurigaan orang-orang akan ada apa di balik artikel tersebut, bukan.. Tapi, first of all, mari kita tinjau sekilas tentang artikel itu.

Saya sendiri sebenernya belum sempat membaca artikel yang dikecam keras terutama oleh AIMI (Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia) itu, tapi dari hasil googling dan membaca tweet yang sliweran di timeline Twitter saya, saya pun bisa membaca artikel yang sudah dihapus dari tempat aslinya itu dalam bentuk screenshot. Tapi sudahlah, screenshotnya gak usah saya perlihatkan di sini, bisa kok disearch sendiri :P.

Beberapa bagian dari artikel yang memicu masalah adalah disebutkan beberapa kerugian menyusui (tidak bisa mengatur takaran susu yang seharusnya dikonsumsi bayi, menyusui bikin puting sakit, menyusui tidak bisa diwakilkan, dan ibu menyusui harus mengubah pola makan) pada artikel pertama dan dengan mudahnya ‘seolah mendorong’ para ibu untuk mengganti pemberian ASI dengan pemberian sufor pada artikel kedua.

Saya, sebagai salah satu dari ‘pasukan’ ibu menyusui (yang juga salah satu anggota milis asiforbaby yang dibuat AIMI) pun merasa like “What the..” saat membaca artikel-artikel itu. Kesan pertama saya: orang yang nulis ini pengetahuannya tentang menyusui dan ASI cetek sekali. Kesan kedua: jangan-jangan ini agen Sufor terselubung nih. Kesan ketiga: jangan-jangan salah nerjemahin nih?

Sebagai penerjemah, tak aneh tentunya kalau saya punya kecurigaan semacam itu. Apalagi, kedua artikel di atas ‘mengaku’ menyadur dari situs web berbahasa Inggris. Sayangnya, nggak ditunjukkan URL sumbernya sih, jadi saya kudu googling, menelusur, menjelajah, dan mencari, plus mengira-ngira artikel mana yang dijadikan bahan untuk membuat kedua artikel di atas.

Saat mencoba membuka url scot.nes.uk (yang diklaim merupakan referensi artikel pertama), ternyata yang muncul adalah laman mercusuar, yang artinya nggak ada alamat situs web kayak gitu. Akhirnya saya googling dan mendapatkan alamat www.nes.scot.nhs.uk. Yakin nggak yakin, saya coba search artikel yang terkait dengan ‘breastfeeding’ dan mendapatkan artikel berjudul Pharmaceutical care of breastfeeding mothers ini. Di situ terlihat jelas kalau artikel itu membahas soal keutamaan menyusui.

Tertulis

Breastfeeding is recognised as having many health advantages for mother and baby. The pharmacist’s public health role may involve the promotion of breastfeeding as well as being able to offer practical advice and guidance towards further support mechanisms, for any difficulties which may arise.

di sana.

So, I didn’t search more in that site. Mungkin terlalu cepat, tapi intuisi saya mengatakan bahwa artikel yang mendeskreditkan kegiatan menyusui seperti di artikel (1) di atas tidak akan ditemukan. Nah, kecurigaan saya akan kesalahan penerjemahan semakin meningkat.

Lalu saya mencoba googling workingmoms.about.com (yang diklaim merupakan sumber penyaduran artikel kedua), kembali mencari artikel di dalamnya dengan kueri “breastfeeding” dan menemukan artikel berjudul How to Succeed at Breastfeeding and Working ini. Saat saya menelusuri di situ, nggak ada lagi artikel yang berbau breastfeeding dari situs workingmoms.about.com selain ini, jadi saya cukup yakin (walau nggak 100%) kalau ini artikel yang dijadikan referensi untuk artikel (2).

Setelah membacanya, nggak ada kok kontennya yang menganjurkan para ibu untuk tidak menyusui (atau yang menurut penulis artikel (2) itu ‘Jangan Paksakan Diri Anda’), malahan isinya adalah kiat untuk bisa pumping dengan nyaman. Tapi mungkin, yang dijadikan dasar tulisan artikel (2) itu adalah bagian ini:

Don’t Exhaust Yourself
The saddest thing you could do in a quest to extend breastfeeding would be to become obsessed with your milk supply and miserable. Give yourself a break.
Maybe you end up supplementing with formula. It’s a perfectly healthy way to feed your child. Any amount of breast milk you’re able to make is better than nothing, and will give your baby wonderful nutrition and immunity protections.

Okay, saya sudah bilang ya kalau nggak 100% yakin bahwa yang saya temukan itu adalah yang dijadikan referensi saduran untuk dua artikel di atas. Tapi, kalau memang itu, sepertinya kesalahan penulis adalah hanya menangkap sebagian konten dan membuang konten lainnya, padahal konten itu adalah sebuah kesatuan yang tidak bisa diambil sepotong saja.

Definisi ‘saduran’ menurut Kateglo adalah 1 hasil menyepuh; sepuhan (emas, perak, dsb); 2 hasil menggubah; gubahan bebas daripada cerita lain tanpa merusak garis besar cerita; 3 ringkasan; ikhtisar (laporan dsb).

Abaikan definisi pertama karena tidak sesuai dengan konteks pembahasan. Sesuai dengan definisi kedua dan ketiganya, kalau penulis mengaku menyadur dari sumber tertentu dan me-rewrite-nya jadi artikel baru, seharusnya dia merangkum seluruh isi artikel sumber dan menjadikannya tulisan yang tidak mengubah garis besar konten referensi. Kalau penulis hanya menerjemahkan sebagian lalu menjadikannya tulisan baru yang tidak mencerminkan isi referensi, seharusnya bagian yang diterjemahkan itu dijadikan quote aja.

Ya gitu deh, bisa jadi penulis memang hanya ‘menculik’ sebagian konten sumber dan ‘meraciknya’ jadi tulisan baru yang (menurut saya) tidak etis. Kenapa tidak etis? (1) You should never write something that you don’t even understand. Dalam kasus ini, terlihat jelas kalau penulis tidak memahami apa itu ‘menyusui’ jadi bisa dengan mudahnya menuliskan ‘kerugian’ menyusui yang sumpah yaaaa, konyol banget, bhahahahahaaakkkk. Tidak ada orang yang menggantikan Anda menyusui bayi katanya? Wakakakaka, la ya mesti taaa, emang pas hamil juga bisa digantikan orang lain apa? Duuuuu.. buset dah, bodo banget sih -ups, keterusan, maap, lanjut poin dua aja deh; (2) Karena mencomot sebagian kecil artikel orang dan menghilangkan bagian terkaitnya yang penting itu misleading. Kalau membaca sumber-sumber yang sudah saya googling, kalian pasti bisa menyimpulkan sendiri.

Saya ingat presentasi salah satu master penerjemah di Indonesia, Pak Sugeng, di acara HPI Komda Jatim beberapa waktu yang lalu, bahwa kita harus Translating with Heart. Misalnya, kalau kita baca majalah luar negeri, saat mereka membahas soal seks, it’s normal when they say, “having sex with your boyfriend”. Sementara, saat artikel tentang seks itu dijadikan sumber untuk menulis artikel dalam bahasa Indonesia, it’s absolutely not okay to say “saat Anda bercinta dengan pacar Anda”. Ya, considering the culture and norms in Indonesia, it is unacceptable. Jadi, terjemahkanlah kalimat itu dengan hati, jangan ‘cuma’ menerjemahkan saja, lokalkan, paling nggak kita bisa menuliskannya jadi “saat Anda bercinta dengan pasangan Anda” atau malah dengan gamblang dijadikan “saat Anda bercinta dengan suami Anda”.

Nah, jadi kalau menyadur, sadurlah juga dengan hati. Jangan cuma asal comot demi memperkaya keyword dan meningkatkan page view tapi lalu menjadikannya saduran misleading yang tidak sesuai dengan sumber, apalagi kalau artikel dibuat untuk konsumsi masyarakat luas semacam itu.

Dan kasus ini ditutup dengan permintaan maaf dari di akun Twitter produk pewangi dan pelembut pakaian tersebut yang berjanji akan lebih jeli dalam menyajikan informasi kepada masyarakat.

The Drama – Episode 2: The Visa

Episode 2: The Visa

Karena waktunya amat mepet, akhirnya saya pun didaulat untuk segera mengurus Visa. Setelah googling sedikit-sedikit, akhirnya hari Senin minggu depannya saya berangkat sendirian ke Jakarta. Berbekal BB dan PicoPad, saya yakin bisa sampai di Kedubes Cheska dengan selamat.

Saya terbang dari Malang jam 9-an dan sampai di Cengkareng jam 11-an. Setelah menyempatkan pumping sebentar, saya langsung ke lobi buat ngantre taksi Blue Bird. Rencananya, saya mau ke Bank Mandiri deket Kedubes Cheska trus lanjut ke Kedubes dari situ. Setelah beres mencetak buku tabungan di kantor Bank Mandiri, saya jalan ke Kedubes Cheska yang ternyata nggak terlau jauh. Lagian daerah Gereja Theresia itu rindang dan rimbun, jadi enak buat jalan kaki, nggak bakal kepanasan.

Tapi seperti kesambar petir rasanya (iya iya saya tahu ini lebay), ternyata Kedubes Cheska-nya tutuuupp wuaaaaaa.

kedubes cheska, kedubes ceko
Plang nama di depan Kedubes Cheska

Jadi ternyata, Kantor Duta Besar Republik Cheska (yang ternyata masih tertulis Kantor Duta Besar Republik Ceko) itu hanya menerima pengajuan pembuatan visa pada hari Selasa dan Kamis jam 9-12 dan pengambilan visa pada pukul 13-15 saja. Sebenarnya informasi itu udah terpampang nyata di blog mereka, tapi rupanya saya tidak memperhatikannya, damn!

So these are my tips for applying visa:

1. Cari informasi secara mendetail tentang persyaratan dan prosedurnya. Jangan karena dikejar waktu kita jadi terburu-buru dan tidak memperhatikan informasi yang dicantumkan di situs web resmi Kedubes.
2. Persiapkan segala sesuatunya dengan mantap, jangan sampai ada yang tertinggal dan diremehkan. Apalagi kalo Kedubes letaknya jauh dari domisili kita, bisa-bisa kita cuma ‘jalan-jalan’ aja, nggak jadi bikin visa.

Dan inilah persyaratan bikin visa, yang saya bikin kali ini adalah Visa Schengen untuk short stay (kurang dari 3 bulan).

1. Ajukan permohonan pembuatan visa di Kedubes tempat negara yang paling lama kita tinggali. (Karena Visa Schengen adalah visa yang berlaku untuk negara-negara Eropa, bukan hanya satu negara. Jadi kalau misalnya kita bakal ada di Republik Cheska 3 hari dan di Vienna 2 hari aja, maka kita harus mengajukan pembuatan visa ke Kedubes Republik Cheska.)
2. Download aplikasi pengajuan visa schengen dan lengkapi dulu sebelum datang ke Kedubes. (Formulir aplikasi bisa didownload di sini).
3. Sertakan juga berkas-berkas yang diperlukan: fotokopi KTP, fotokopi buku tabungan, fotokopi halaman identitas passport, fotokopi asuransi kesehatan, fotokopi surat undangan dari negara tujuan (kalau tujuan keberangkatan adalah pelatihan kerja), fotokopi tiket pulang-pergi, fotokopi konfirmasi pemesanan hotel, pas foto berwarna 4×6 dengan kualitas baik (pastikan jidat juga terlihat ya dan jangan senyum, big no no). (Selain berkas fotokopi, bawa juga berkas aslinya, siapa tahu diperiksa). (Persyaratan lebih jelas, periksa di sini.)

ibis akordia
Jangan bikin pasfoto kayak gini, afterall, ini bukan pasfoto kali pek -.-“

4. Siapkan duit untuk membayar visa. Bulan Juni 2013 kemarin sih saya bayar 765.000.

Nah, kembali ke Kedubes yang tutup tadi. Karena kecapekan dan kelaparan, akhirnya saya memutuskan untuk masuk ke restoran yang ada pas di depan Kedubes, sekalian nunut ngecas BB, soalnya udah mati aja gitu. Dan begitulah hingga akhirnya saya harus menginap di Jakarta sehari untuk kembali ke Kedubes besoknya, tiket pesawat ke Surabaya pun hangus tak terpakai :(. (See the pictures and the story about it here)

monas, monumen nasional
Terpaksa menginap di Jakarta dan nggak membuang kesempatan untuk mengunjungi Monas! Here I am njunjung monas :D

Besoknya saya kembali ke Kedubes, saya datang jam 9 pagi, eh ternyata udah ada beberapa orang yang ngantri di depan pagar. Iya, di Kedubes Cheska, tempat ngantrinya ya di depan pagar. Kita nggak bakal boleh masuk ke kompleks Kedubes kalau belum gilirannya. Saya lihat mereka semua sudah pada bawa formulir pengajuan pembuatan visa, sementara saya…. beluuummmm wuaaaa (ini akibat saya tidak membaca informasi pembuatan visa dengan teliti, like i said before). Akhirnya saya bertindak cepat. Saya menghubungi kakak sepupu saya yang kerja di Jakarta, untungnya kantornya di dekat daerah situ. Saya langsung ke kantornya dan nunut fotokopi dan ngeprint formulir, sekalian juga nunut cari spot yang cukup representatif buat bikin pas foto karena saya ternyata juga tidak bawa pas foto (OMG, what a mess!).

Meskipun it was a chaos, tapi akhirnya formulir pengajuan pembuatan visa sudah terlengkapi dengan apik. Foto pun sudah jadi (foto di tembok putih polos pake BB saya, pake flash, tanpa edit, langsung diprint di kompleks perkantoran itu juga, mwahahaaa). Segala berkas yang diperlukan pun sudah terfotokopi dengan baik. Saya pun langsung balik ke Kedubes Cheska yang ternyata masih ada yang antre.

Jam sudah menunjukkan pukul 11 siang, sementara saat itu saya adalah antrean kelima. Agak dagdigdug juga apalagi ternyata saya sadar kalo saya belum punya asuransi kesehatan. Aduhmak! Lalu saya ingat-ingat, kayaknya waktu googling dulu ada yang bilang kalo ‘asuransi kesehatan tidak diperlukan kalau sudah ada surat undangan dari negara tujuan’, jadi saya agak-agak tenang gitu deh. Afterall, I didn’t want all my effort resulting in vain.

Akhirnya, jam 12 kurang lima menit saya pun kena giliran untuk masuk (cuma tinggal lima meniiitttt, ndredeg jaya sumpah deh). Dengan deg-degan (karena grogi karena baru pertama kali ngurus ginian, karena agak takut karena nggak punya asuransi kesehatan, daaan karena just found out kalo cincin kawin saya nggak lagi ada di jari manis tangan kanan saya :o) saya melewati gerbang Kedubes. Sebelum masuk ke ruangan Kedubes, saya harus meninggalkan semua barang bawaan kecuali dompet dan berkas-berkas yang diperlukan di depan pintu.

Saya diterima oleh petugas yang bernama Hana. Dia hanya bicara bahasa Inggris, dan entah kenapa bahasa Inggris saya yang tidak terlalu bagus kalo dipake conversation mendadak jadi amat hancur saat berhadapan dengannya. Saya rasa saking groginya saya jadi semuanya terasa tidak benar dan saya tidak bisa berbicara dengan lancar #glek. Hana tidak terlalu senang dengan pas foto saya, “It’s not good,” katanya. Yeah, saya paham, la memang itu hasil foto dari BB gitu #cleguk. Dan dia bilang kalo saya harus punya asuransi kesehatan kalo ingin permohonan pembuatan visa saya disetujui. Kalau tidak, visa saya nggak bakal keluar.

Akhirnya dengan gemetar yang dipede-pedekan saya minta waktu untuk memberikan asuransi kesehatan itu, bahasa kerennya, berkas asuransi kesehatan bakal saya susulin nanti. Untungnya, Hana menyetujuinya saat tahu kalo domisili saya di Malang yang jaraknya ‘one hour flight’. Hana memberi saya waktu sampai jam 5 hari itu juga untuk mengirimkan berkas asuransi kesehatan ke email Kedubes Cheska.

Setelah itu saya langsung cabut ke bandara. Saya cuma ingin cepat pulang. Dalam perjalanan ke bandara, saya informasikan pada Pakbos kalo saya harus punya asuransi kesehatan. Karena nggak ada yang tahu gimana caranya ngurus asuransi kesehatan dengan jarak waktu sependek itu, akhirnya it turned out that it was impossible untuk mendapatkan asuransi kesehatan pada hari itu.

Sampai di bandara, saya memutuskan untuk mengirim email ke Hana. Saya meminta maaf atas ketidaksiapan saya dalam mengajukan permohonan pembuatan visa karena sangat grogi dan saya bilang bahwa saya tidak bisa memberikan asuransi kesehatan pada hari yang sama. Saya bilang saya akan kembali mengajukan permohonan pembuatan visa minggu depan (yang artinya harus bayar lagi).

Betapa senangnya hati saya saat hari Kamis, Hana membalas email saya. Katanya pengajuan pembuatan visa saya sudah diproses dan mereka masih menunggu asuransi kesehatan yang diperlukan. Akhirnya, saya dan PakBos BukBos mencari-cari informasi tentang asuransi kesehatan yang bisa diproses dengan cepat, like really researching.

Akhirnya kami menemukan bahwa ada asuransi kesehatan yang bisa diproses hanya dalam 5 menit saja, bahkan kurang. Namanya AXA Schengen. Cukup klik-klik dan bayar pakai PayPal, jadi deh asuransinya. Langsung setelah itu saya kirimkan berkas asuransi itu ke email Kedubes sambil berharap semoga pengajuan saya diterima. Apalagi, tanggal keberangkatan saya adalah hari sabtu di minggu berikutnya, udah mepet banget.

Legalah hati saya saat akhirnya berkas saya lengkap. Sekarang deg-degan menunggu hasil pengajuan itu, apakah diapproved atau didisapproved. Sampai hari Selasa siang, masih belum ada kabar yang jelas mengenai visa saya. Akhirnya, saya kembali mengirim email pada Hana dan menanyakan tentang status visa saya. Hana membalas email pada hari Rabu pagi. Dan, what a great news, visa saya diapproved! Hurray! Dan visa bisa diambil besoknya jam 1-3 siang.

And this is the best part of the drama..

Karena hari Sabtu saya sudah harus berangkat ke Brno, akhirnya yang didaulat mengambil visa saya adalah rekan kerja saya, Puthu. And I’m glad I have a colleague like him. Bagaimana tidak, kalo saya yang ambil visa sendiri, kayaknya saya bakal pingsan di jalan karena too many chaos happened. So, what’s the story?

Ceritanya berawal saat Puthu dijadwalkan berangkat dari Bandara Abdul Rahman Saleh dengan penerbangan pertama Sriwijaya ke Bandara Soekarno Hatta. Tapi dari jadwal keberangkatan yang jam 8 itu, Puthu baru berangkat jam 1 siang!! Disaster! Penyebabnya saat itu Malang memang lagi mendung tebal, pesawat tidak bisa mendarat jadi lanjut ke Surabaya dan mendarat di sana. Baru bisa ke Malang agak siangan dan siap berangkat jam 1 siang itu :(. Dari situ saja saya sudah hampir putus asa. Mana nutut kalau harus mengambil visa di Kedubes yang tutup jam 3 sore?

Tapi Puthu tidak putus asa. Dia terus menelepon Kedubes dan menginformasikan keadaan yang sebenarnya. Bahwa ada delay pesawat dan betapa pentingnya visa itu diambil karena saya harus berangkat hari Sabtu-nya. Dan memang akhirnya Kedubes sudah tutup saat Puthu tiba di sana pukul 4 lebih. Saya sudah hampir nangis karena it was very close…

Ternyata, Puthu benar-benar juara! Karena dia terus menginformasikan keadaannya kepada Kedubes, akhirnya Kedubes memperbolehkan Puthu mengambil visa saya hari Jumat pagi, that was awesoooomee!!! Entah apa yang terjadi kalo nggak ada Puthu. I really proud of you, Thu, I really am.

Akhirnya, visa ada di tangan saya hari Sabtu pagi dan saya siap berangkat ke Brno.

Coming next: Stranger in strange place: Chzech Republic
Also read: The Drama – Episode 1: The Passport

The Drama – Episode 1: The Passport

Setelah bertahun-tahun bermimpi bisa ke luar negeri, akhirnya impian itu kesampaian juga. Gratis lagi. Meskipun agak berat karena saya harus berangkat ke negara yang nun jauh di sana, tapi akhirnya tekad saya pun bulat untuk berangkat. Nah, karena informasi jadi tidaknya keberangkatan saya baru diumumkan satu bulan sebelum due date, maka urusan passport dan visa pun jadi semacam dramaaaah. It’s not like I like to be a drama queen, but it was such a beautiful mess so I called it a drama :D.

Episode 1: The passport

Mungkin sudah kebiasaan di Asia kali ya kalo mengumumkan sesuatu selalu mendadak-mendadak. Cuma satu bulan sebelum saya jadi berangkat ke Cheska (iya, Cheska, dulu lebih tenar disebut Ceko, negara pecahan Cekoslovakia. Cekoslovakia sendiri sekarang udah nggak ada, pecah jadi Republik Cheska dan Slovakia), bos besar di negaranya sana meminta Pak Bos menyerahkan identitas lengkap saya: nama lengkap, alamat, scan passport. Nah, yang jadi masalah adalah: saya belum punya passport! Padahal, identitas lengkap itu harus segera diserahkan ke Moravia buat membuat undangan Windows Phone Blue Summit 2013 for me.

Untung alhamdulilah, ada kakak tingkat di UM dulu yang kerja di Kantor Imigrasi, jadi bisa langsung minta informasi apakah ada kemungkinan bikin passport yang sehari jadi. Langsunglah kami menelepon sang kakak tingkat.

“Mas, bisa nggak ya bikin passport yang satu hari jadi?”
“Oh bisa banget.”
“Oya? Gimana tuh?”
“Sulapan.”

#jleb banget deh jawabannya. Akhirnya kami cerita keadaan yang sesungguhnya dan bahwa kami dikejar-kejar waktu :|.

Akhirnya, si kakak tingkat memberikan informasi selengkap-lengkapnya tentang langkah-langkah pembuatan passport. Jadi, buat yang mau bikin passport buat ke luar negeri dengan tujuan tugas kantor, inilah persyaratannya:

1. Siapkan berkas-berkas pribadi yang diperlukan: KTP, Kartu Keluarga, Akte Kelahiran, Surat Rekomendasi dari kantor (semuanya asli plus difotokopi juga)
2. Materai 6000 1 lembar,
3. Duit 255.000
4. Mengisi formulir pengajuan pembuatan passport.

Si kakak ngasih formulir itu dan saya mengisinya dengan selengkap-lengkapnya. Lalu fotokopi berkas pribadi dimasukin amplop dan besoknya saya kudu datang ke Kantor Imigrasi buat melakukan prosedur selanjutnya.

Prosedur berikutnya adalah:

1. Datang ke Kantor Imigrasi (yang saya datangi adalah Kantor Imigrasi Malang). Tinggal nunggu di tempat duduk yang disediain di lobi lalu nanti nama kita akan dipanggil sama petugas di salah satu loket. Setelah dipanggil, petugas mengecek semua berkas yang ada di amplop. Setelah semua lengkap, kita bakal disuruh ambil nomor antrean untuk dipanggil lagi di loket pembayaran.

nomor antrean pembuatan paspor
Ini nomor antreannya. Jangan sampai hilang karena nomor antrean inilah yang dipake buat ambil passport yang udah jadi.

2. Setelah beberapa saat menunggu, kita bakal dipanggil sesuai nomor antrean ke loket pembayaran. Bayar 255.000 trus kita disuruh duduk lagi untuk menunggu kwitansi diberikan.
3. Beberapa waktu kemudian, kita dipanggil lagi oleh petugas di loket pembayaran, ambil kwitansi yang diberikan, lalu duduk manis lagi menunggu nomor kita dipanggil untuk foto.
4. Lalu mulailah penantian yang panjang itu. Proses foto ternyata begitu lama sehingga antreannya berjalan sangat lambat. Lalu tibalah giliran saya difoto. Kalau pake jilbab, jilbabnya harus agak di ke atasin gitu biar jidatnya terlihat dominan. Trus kalo pake kacamata/softlens, harus dilepas dulu jadi yang terjepret adalah mata asli :D.
5. Setelah foto, kita masuk ke sesi wawancara. Di situ, selain berkas-berkas kita diperiksa, berkas aslinya juga diperiksa, kita juga ditanya-tanya mau ke mana, ngapain ke sana, dan blah-blah lainnya. Petugasnya sih agak-agak sok judes sok galak gitu, tapi aku tahu mereka baik hati saat melihat ke matanya #eaa #apaansih ah pokoknya nggak usah grogi, jawab aja sejujurnya dan seadanya :D.
6. Selesai. Kita harus menunggu selama 3 hari untuk mengambil passport kita yang udah jadi.

Then, the drama reach its peak. Ngurus passport selesai dan waktunya saya kembali ke kantor. Jam sudah menunjukkan pukul 11 siang. Cinta harus mengantarkan saya ke kantor dan segera berangkat ke mesjid karena saat itu hari Jumat. Sebenernya mulai pagi udah ngerasa agak-agak nggak enak hati gitu, kirain karena grogi mau ngurus passport, ternyata …

Saya ama Cinta tabrakan :(.

Jadi kejadiannya di daerah Ahmad Yani, deket puteran gitu deh. Pas enak-enaknya jalan dari arah fly over, tiba-tiba aja ada motor dari arah puteran itu motong di depan motornya Cinta. Udah deket banget, ngerem pun nggak nutut. Dan akhirnya, brak!! Tabrakan pun nggak terelakkan :(. Ya untungnya nggak ada yang luka terlalu parah, cuma bemper depan motornya Cinta pecah (yang untungnya lagi masih bisa dilem dan jreng-jreng, tampak seperti baru lagi, ahahaa) dan ada botol ASI saya yang pecah muhuhuuuuu T_T

botol asi
Muhuhuuu.. botolnya patah giniii :(

Ya alhamdulilah diberi peringatan sama Allah, nggak boleh emosi-emosi kalo di jalanan. Akhirnya setelah kejadian itu, saya sama Cinta berusaha untuk lebih sabar di jalanan, meskipun banyak pengguna jalan yang suka ngawur dan seenaknya sendiri, hufiuh.

Dan hari Rabu saya pun kembali ke Kantor Imigrasi. Ambil nomor antrean kemudian dipanggil ke Loket Pengambilan Passport. Alhamdulilah, akhirnya saya punya passport juga.

Also read: The Drama – Episode 2: The Visa