0

Damn, It’s a Real Sasha Grey!

Beberapa waktu ini terjadi sebuah perkembangan yang cukup menggelikan di dunia perfilman Indonesia. Kenapa saya bilang menggelikan, soalnya memang bikin saya agak geli, bukan bangga, bukan juga kecewa, geli-geli aneh gitu deh.

Gimana bisa nggak geli, pasalnya film-film Indonesia sekarang lagi seneng dengan genre horor komedi (atau mungkin beberapa memenuhi syarat sebagai horor esek esek). Bukan hanya itu, demi memancing perhatian pemirsanya, film-film itu merangkul artis-artis luar negeri untuk ikut bermain di dalamnya.

Wow, keren ya?

Entahlah.. pasalnya yang digandeng di sini (entah janjian entah saingan entah ikut-ikutan entah pengen aja entah emang bisanya kayak gitu) adalah bintang film dewasa alias blue film alias BOKEP sodara-sodara.

Sebut saja, Suster Keramas yang menggandeng Rin Sakuragi, Rintihan Kuntilanak yang menggandeng Tera Patrikck, Suster Keramas 2 yang menggandeng Sora Aoi, sekarang bahkan nama gede sekelas Sasha Grey digandeng untuk main di Pocong Mandi Goyang Pinggul! Astaganaga!

 
Read More
15

Malang Dalam Rekaman Roll Film

Malangku emang semakin terkenal aja. (Oke oke.. aku ngaku bukan anak Malang asli, tapi anak mBatu. Tapi kan tapi kan mBatu termasuk Malang Raya. Jadi gag papa dong kalau aku juga cinta Malang dan merasa ikut memiliki Malang? :D ) Kalau dulu yang namanya film itu kalau nggak berlokasi di Jakarta, Bandung, Surabaya, bla bla bla, kota-kota besar di Indonesia pokoknya, sekarang Malang sering kali muncul di film-film tanah air.

Bangga? Pasti lah. Penasaran? Iya juga. Masalahnya aku belum pernah ngeliat secara langsung proses shooting sebuah film. Gimana para pemain siap di posisi masing², para kru siap dengan tugasnya, sang sutradara ada di balik kamera, dan berteriak “yaaaaak….. action!!!” Hohoho.. serasa berada di dunia lain. Pengen ada di sana? Banget! Sapa taw bisa dilirik sutradara ataw produser trus ditawarin jadi apa kek apa kek (seksi konsumsi moro-moro… aaah.. tidaaaarrrghhh!!!).

Trus di mana aja sih lokasi yang pernah direkam di dalam kamera dan kemudian setelah melalui proses pemotongan, penyuntingan, pengeditan (halah podo kabeh) lalu menjadi sebuah film itu? Karena keterbatasan pengalaman saya yang tidak terlalu maniak pilem dan suka pikun, jadi hanya ada dua film yang saya jadikan sumber di sini: PUNK IN LOVE sama ROMEO & JULIET. Kenapah? Karena dua film ini yang i have been watched recently.. hihihi..

• PUNK IN LOVE

Dalam film yang menceritakan tentang perjalanan empat anak punk, Arok (Vino G Bastian), Yoji (Andhika Pratama), Mojo (Yogi Finanda), sama Almira (Aulia Sarah) scene kota Malang cukup banyak ditunjukkan. Cuma sekitar lima belas menit sih empat anak punk ini ditunjukin lagi di Malang, sisanya di Bromo, Blitar, dan lain-lain, yang paling banyak sih Jakarta. Tapi, cukup banyak sudut² kota Malang yang direkam di situ.

Di antaranya:

Sepertinya sih di kawasan Tawangmangu sana deh

Stasiun Kota Lama

 
Read More
6

The Slumdog Millionaire

Apa yang akan terlintas di pikiranmu saat mendengar kata “film India”? Rahul – Anjeli? Joget-joget, nari-nari, puter-puter? Nyanyi-nyanyi? Inspektur korup? Penjahat yang gampang mati sementara si lakon yang udah ketembak berapa kali pun gag mati-mati? Sahrukh Khan, Amitabh Bachchan, Rani Mukherjee, Kajol, Aiswarya Rai? Kuch Kuch Hota Hai? Bajaj? Sungai Gangga dan cinta yang pasti menang?

Mungkin saja karena waktu jaman film India lagi booming, hmmm… ya begitu itulah tema yang banyak beredar. Walau tak bisa dipungkiri aku juga suka Kuch Kuch Hota Hai, Mohabbatein, Kabhi Kushi Kabhi Hum, Kal Ho Na Ho, sampai yang terakhir aku nonton Kabhi Alvida Na Kehna yang udah nggak seberapa bagus menurutku. Lalu saat film India sepertinya sudah sampai pada titik jenuhnya, muncul film Slumdog Millionaire, yang tak dinyana begitu sensasionalnya sampai memboyong delapan penghargaan bergengsi di ajang Academy Awards ke-81 alias Oscar 2009, 22 Februari 2009 kemarin.

Aku baru nonton Slumdog H-1 perhelatan besar Oscar itu, dan aku benar-benar terkesan. Nggak salah deh kalau tuh film bener-bener jadi film terbaik 2008.

Ceritanya sendiri berpusat pada Jamal, seorang anak India miskin yang jalan kehidupannya amat membuat merinding, penuh petualangan, kekerasan, slumdog..

Jamal yang mengikuti kuis Who Wants to be a Millionaire versi India dianggap curang karena bisa menjawab semua pertanyaan yang diberikan. Jamal dibawa ke kantor polisi dan terungkap biadabnya perlakuan polisi India (atau mungkin juga di negara2 lain yang belum terungkap) untuk membuat (atau memaksa?) Jamal mengaku bahwa dia memang berbuat curang.

Namun di situlah terungkap sketsa-sketsa hidup Jamal yang membuatnya bisa mengetahui jawaban setiap pertanyaan yang diberikan padanya. Bagaimana dia tinggal dengan ibunya dan kakaknya, Salim, di daerah kumuh India (yang tak pernah ditunjukkan film-film cantik penuh cinta khas Bollywood) hingga suatu hari daerah itu diserang oleh kelompok Hindu (ingat2 sejarah India saat ada clash antara kaum Muslim dan Hindu, kebetulan Jamal dan keluarga adalah orang Muslim) dan menewaskan ibunya. Bagaimana dia akhirnya menjadi gelandangan pemungut sampah bersama Salim dan Latika, wanita yang selalu dicintainya, dan dipungut oleh ‘dewa penolong’ yang ternyata sekejam iblis. Bagaimana dia terpisah dengan Latika, bertemu lagi, lalu kemudian terpisah lagi, dan bertemu lagi. Dan bagaimana-bagaimana yang lain yang kemudian membuat Jamal berhasil memenangkan 2 miliar rupee dan bersatu dengan Latika.

Tetap soal cinta, namun konflik dan perjalanan yang mereka lalui, membuka realita kehidupan India, perkampungan kumuh, tempat cuci massal, pembunuhan karakter dengan uang, wanita, uang, uang, uang, polisi, uang, uang, uang, pencurian, copet, uang, uang, uang, kepalsuan, usaha menaikkan rating, uang, uang, uang…. Hingga akhirnya ditutup dengan lagu terbaik pilihan juri Oscar 2009: Jai Ho.

But one thing 4 sure, nggak bakal rugi nonton film besutan Danny Boyle ini. Satu, menambah pengetahuan. Dua, bisa hati2 kalau mau pergi ke India, jangan ketipu ama film khas Bollywood-nya deh. Tiga, sadar bahwa manusia itu harusnya dinamakan Homo Economicus, bukan Homo Erectus (karena ternyata uang memang berkuasa.. ah ngomongin uang bisa panjang). Empat, kamu bisa cari sendiri kalau udah nonton film yang bikin Dev Patel dan Freida Pinto jadi tenar di Hollywood dan bikin pemeran Jamal dan Latika cilik punya rumah ini.

 
Read More

Saling Silang