Menurut Saya, Internet of Everything Adalah…

… inovasi yang patut dipersiapkan kedatangannya mulai dari sekarang. Bisa membayangkan kan saat semua aktivitas saling tersambung dan terintegrasi, yang pasti salah satu yang dibutuhkan adalah perangkat mobile yang mumpuni.

Perangkat seluler inilah yang akan jadi pintu ke mana saja kita, jadi gak cuma Doraemon aja yang punya, hehehe. Kenapa jadi pintu ke mana saja? Karena inilah yang jadi gadget utama kita untuk mengakses berbagai hal: email, social media, aplikasi perbankan, online shopping, aplikasi pembayaran, hingga download atau streaming.

Nah, untuk bisa melakukan itu semua dengan optimal, pastinya dibutuhkan perangkat seluler dengan kemampuan yang ciamik. Nggak salah kalo akhirnya Qualcomm merilis chipset Snapdragon yang mampu menjawab tantangan itu. Sama sih sama komputer, jantung perangkat seluler adalah prosesornya. Jadi, kalo prosesor dalam sebuah ponsel itu berkualitas tinggi, bisa dijamin ponsel itu pun akan memberikan kinerja yang jempolan. Yah, semacam ‘don’t judge the book by its cover’ gitu deh. Kalo kamu pengen punya ponsel yang bisa diandalkan, yang pertama kamu harus memeriksa dulu prosesor yang diusungnya, jangan kemasannya aja ya, hehe..

Menurut Qualcomm.co.id, prosesor Snapdragon “memberikan pengalaman pengguna setingkat lebih tinggi.” Dengan sistem all-in-one yang komprehensif, prosesor ini dirancang dengan khusus untuk menghasilkan pengalaman seluler terbaik di kelasnya. Satu lagi, ketahanan daya baterai juga jadi salah satu pertimbangan penting. Jangan khawatir, prosesor Snapdragon memberikan daya tahan baterai sepanjang hari.

Qualcomm Snapdragon juga dipakai oleh mayoritas merek ponsel terbaik di dunia lho. Misalnya nih, Oppo N3 yang memiliki koneksi tercepat, kinerja terbaik, daya tahan baterai terbaik, dan terdepan dalam multimedia dan kamera fiturnya, juga memberdayakan prosesor dari Qualcomm, yaitu Qualcomm Snapdragon 801. Semakin bikin ngiler deh.

Bagian yang harus diperhatikan adalah bagian yang tidak Anda lihat – Qualcomm.co.id | source: Qualcomm

Mungkin alasannya karena prosesor ini punya berbagai keunggulan, yaitu:

– Bisa digunakan untuk koneksi cepat 4G/LTE, yang artinya bye bye lemooott!!,
– Dapat mendukung kamera ponsel yang paling kuat dengan teknologi khusus untuk memungkinkan lebih banyak megapiksel, jadi hasil foto kita bakal cetar membahana,
– Dapat menampung video sebesar 4K, jadi gak perlu ketar-ketir kehabisan memori setelah ngerekam-ngerekam berbagai kejadian lucu, dan
– Memberikan suara berkualitas bioskop untuk video dan musik, just one word left: WOW!

Jadi, dengan keunggulan semacam ini, masih bingung pilih ‘pintu ke mana saja’ kamu?

What I Like: Menurut Saya, Singapura Adalah…

… negara yang sangat teratur. Transportasinya teratur, jalanannya teratur, buang sampahnya teratur, ngerokoknya teratur, bahkan jongkok aja sampe diatur. Buat saya yang kalo ikutan kuis-kuisan kepribadian suka dapet hasil idealis dan suka dengan segala sesuatu yang teratur, Singapura semacam surga.

Menyenangkan banget kan lihat orang-orangnya pada menjaga kebersihan, menaati rambu-rambu lalu lintas, sekenceng apa pun kendaraannya tapi tetep langsung berhenti saat ada lampu merah dan nggak pake klakson-klakson berisik padahal belum juga lampu merahnya ganti jadi lampu ijo, nggak bergerombol di depan pintu keluar kendaraan umum, selalu memberikan jalan di sebelah kanan di tangga berjalan buat orang yang lebih terburu-buru, selalu tepat waktu, dan selalu mau antri tanpa kudu dipelototin, dan lain-lain sebagainya.

Yah, itu lah yang saya suka dari Singapura. Meskipun nggak sejuk kayak di Batu, tapi saya ngerasa kalo udaranya semacam lebih bersihan gitu ya. Yeah well, mungkin perasaan saya aja sih, tapi saya pake softlens seharian nggak ngerasa pedes tuh mata saya (eh, tapi mungkin ini juga karena saya nggak melototin komputer seharian kayak biasanya sih hahaha).

Yang bikin saya amat melongo saat ke Singapura adalah pengaturan transportasinya, iya, itu si MRT, yang nge-link ke sana ke mari. Semuanya seakan terhubung, ke sana, ke sini, dengan satu kartu ajaib yang namanya EZ Link, semua jadi serba mudah (yah pokoknya selalu keisi aja sih saldonya, ngehehe). (Dan sama guide saya dibilang “Ini mah masih sederhana. Coba kalo kamu ke Jepang, di situ jauuuh lebih njelimet lagi!” Oh wow, harus bener-bener jeli melihat petanya kalo begitu, eh, kapan emang mau ke Jepang? Kapan, pek? Kapaan?)

waiting for MRT to come, garis merah itu batas menunggu, penumpang yang mau naik nggak boleh berada di antara dua garis merah itu

Kartu sakti #ezlink #singapore #SquareInstaPic

A photo posted by Noviana Indah (@nophindahoz) on

Saya juga sempet tanya ke Guide saya, “Kok bisa ya di sini semuanya teratur gitu? Padahal nggak ada peraturan tertulis, nggak ada juga yang jaga gitu, tapi kok ya selalu ambil sisi kiri di eskalator, nggak dipenuhin? Semacam kesadaran gitu ya?”

Guide saya bilang, “Budaya kayaknya.”

Iya, budaya. Membudayakan sesuatu yang baik. Memang mungkin terasa mempersulit atau memperberat pada awalnya, tapi toh itu untuk kebaikan kita juga. Nggak mau kan ya pas kita keluar dari kendaraan umum malah akhirnya kedorong ke dalam lagi karena banyaknya gerombolan orang yang mau masuk? Nggak mau kan pada akhirnya terlambat gara-gara orang di depan kita nggak mau minggir pas di eskalator? Nggak mau kan pas kita enak-enak jalan di jalanan umum tapi kehalang orang yang jongkok-jongkok gitu? Nggak mau kan nggak bisa nyebrang di jalanan gara-gara mau lampu ijo kek mau lampu merah kek tetep aja kendaraan pada seliweran? Nggak mau kan diberisikan klakson di belakang kita pas detik-detik terakhir lampu merah?

Sudah saatnya kita semua belajar, bukan cuma saya, bukan cuma kamu, atau dia, tapi semua. Bisa nggak ya?

Menurut Saya, Liburan ke Singapura Hanya Dengan SGD 52 Adalah…

… liburan melas, hakakakak…

Trust me, Singapura bukan tempat yang tepat buat menghabiskan liburan minim duit. Di situ mihil-mihil bok! Udah jadi rahasia umum sih ya kayaknya hahaha, tapi saya dong tetap nekat cuma bawa uang saku SGD 52 aja. Dan bahkan uang itu masih bersisa SGD 5.70 looo hehehe…

Ya iya sih, liburan ini banyak yang biayanya udah ditanggung, wkwkwk. Pesawat PP ditanggung, apartemen ditanggung, tiket masuk ke attraction ditanggung, makan ditanggung, jadi ya… bisa nebak sendiri deh seharusnya berapa biaya yang dikeluarkan.

Jadi, yang bisa saya sarankan biar bisa agak berhemat saat berlibur ke Singapura adalah mending cari penginapan di daerah Arab Street, kata-katanya sih cukup ekonomis dibanding lainnya. Trus, nggak usah deh beli barang-barang nggak bermerek di Singapura, soalnya jatuhnya malah lebih mahal. (Bahkan Ruby shoes yang lagi diobral aja masih lebih murah di Zalora lho, as far as I know hehehe). Singapore emang bener surga belanja, tapi buat barang branded, lainnya sih enggak hahaha…

Trus, kalo ke Singapura pasti pengen nyoba es krim legendaris Uncle Ice Cream itu kaan? Saya saranin sih beli di selain di Orchard Road. Di tempat-tempat lain harganya kan 1 dolar tuh, di Orchard harganya 1.2 dolar dooong wkwkwk. Emang kata-katanya apa-apa jadi lebih mahal di jalanan itu, bahkan kalo naik taksi dari sana, minimal rate-nya aja ditinggiin. Yah, gitu deh.

Jadi, saya akan lebih banyak bercerita soal liburan kantor ke Singapura ini di postingan lain, sekarang saya mau pamer foto ajaaa.. horeeee…

Resolusi: Menurut Saya, 2015 Adalah…

…saat yang tepat untuk (akhirnya) berkata: ACTION!

I know maybe for others, saya termasuk yang terlalu lambat untuk bertindak, tapi, nggak ada kata terlambat untuk mulai bertindak kan?

Jadi, sekali lagi, resolusi 2015 saya adalah “mulai bertindak”. Punya banyak ide itu bagus, tapi kalo nggak ada yang direalisasikan, nggak akan ada hasilnya kan? Nah, itu juga jadi salah satu langkah untuk bertindak: mengelola ide dan mewujudkannya, tidak hanya membayangkannya. Selain itu, jangan mogok di tengah jalan, harus diteruskan sampai the very end.

action

Yeah, jalannya nggak akan semulus kulit bayi, tapi kalo semulus itu juga alhamdulilah sih ya, hehehe. Yang pasti, nggak mungkin ada buah kalo nggak ada yang menanam, nggak akan ada hasil kalo nggak ada usaha. PR pertama untuk bertindak adalah fokus. Karena banyaknya hal yang menarik perhatian saya, banyak juga ide yang saya dapatkan. Tapi semakin banyak ide yang muncul semakin banyak juga waktu yang saya buang untuk semata membayangkannya dan kehabisan waktu untuk mewujudkannya. Lingkaran setan banget deh, #sigh…

action

Ya sudah ya sudah, let’s do the very first step: Membuat resolusi blog 2015.

Agak ngenes sih emang kalo mikirin blog ini, soalnya kadang bener-bener diurusin, kadang dianggurin sampe berdebu dan bersarang laba-laba, #fiuh. Dan setiap tahun juga gitu, sama aja. Mungkin sudah waktunya memang dikeluarin jurus resolusi ini.

Baeglaaa… resolusi blog nophindahoz.com 2015 adalaaaah… lebih aktif sharing something lewat tulisan di blog ini, paling enggak, setiap seminggu selalu ada satu post yang saya tulis dan publish. Dan, karena fokus adalah niat saya untuk mencapai resolusi 2015, maka post di blog ini pun akan jadi lebih fokus dan tertata. Saya tetap akan menulis tentang daily events sesekali, tapi saya akan lebih aktif sharing soal passion saya di handmade-related thing, mendesain sesuatu, menerjemah, merawat kulit wajah, dan membesarkan anak :D.

Cozy #SquareInstaPic #alhawza #jenahara #familytime #beibizee #motheranddaughter #meandmydaughter

A photo posted by Noviana Indah (@nophindahoz) on

Semangat!!

Oiya, postingan ini diikutin IHB Blog Post Challenge bertema “RESOLUSI BLOG 2015 !!!”.

Menurut Saya, Hari Penerjemahan Sedunia Adalah…

..hari yang tepat untuk kembali menegaskan bahwa profesi penerjemah bukanlah profesi yang pantas dipandang sebelah mata. Eh iya sih, nggak ada kali profesi yang boleh disepelekan. Tapi ada, ada segelintir orang, atau beberapa gelintir, atau sebut saja oknum yang sering kali menyepelekan penerjemah.

Sepertinya memang itu sudah ditanamkan sejak dahulu kala di lingkungan sekitar saya, atau mungkin di negara saya ini, bahwa pendidikan bahasa itu nggak perlu lah terlalu ditekankan. Bahkan ironisnya, sering kali kelas Bahasa di SMA-SMA itu dimahfumi sebagai kelas buangan. Ah, itu zaman saya dulu sih, semoga sekarang sudah berubah.

Kembali ke profesi penerjemah.

Buat saya, menerjemah adalah sebuah seni. Seni melokalkan sebuah informasi yang sebelumnya tidak dimengerti menjadi info bermanfaat yang mudah dipahami. Karena itulah, menerjemah tidak hanya sekadar mengganti-ganti kata-kata dalam bahasa lain menjadi kata padanannya dalam bahasa native, tapi lebih seperti menuliskan kembali kata-kata itu dalam bentuknya yang paling mudah dibaca, dimengerti, dan dipahami. Dan selain kemampuan, menerjemah juga butuh kerja keras dan pembelajaran, serta latihan. Tidak mungkin hasil penerjemahan kita langsung begitu kerennya tanpa kita melalui proses latihan dan pembelajaran terus menerus. Ya, semacam ‘kalau nggak kotor, nggak belajar’, gitu deh.

Karena menerjemah itu nggak gampang, pantas dong biaya jasa menerjemahkan tidak murah. Lalu, berapa sih standar biaya jasa menerjemahkan itu? Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI) sudah memiliki acuan dasar tarif penerjemahan yang ditentukan berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan PMK No. 53/PMK.02 Tahun 2014 Tentang Perubahan Standar Biaya Masukan Tahun Anggaran 2015 yang mengatur Satuan Biaya Penerjemahan dan Pengetikan (halaman 56 butir 5), yang bisa dilihat di bawah ini.

Sumber: HPI

Selamat Hari Penerjemahan Sedunia! Happy International Translation Day!

Not the world but my eyes. Not a thought but my opinion.

%d bloggers like this: