Resolusi: Menurut Saya, 2015 Adalah…

…saat yang tepat untuk (akhirnya) berkata: ACTION!

I know maybe for others, saya termasuk yang terlalu lambat untuk bertindak, tapi, nggak ada kata terlambat untuk mulai bertindak kan?

Jadi, sekali lagi, resolusi 2015 saya adalah “mulai bertindak”. Punya banyak ide itu bagus, tapi kalo nggak ada yang direalisasikan, nggak akan ada hasilnya kan? Nah, itu juga jadi salah satu langkah untuk bertindak: mengelola ide dan mewujudkannya, tidak hanya membayangkannya. Selain itu, jangan mogok di tengah jalan, harus diteruskan sampai the very end.

action

Yeah, jalannya nggak akan semulus kulit bayi, tapi kalo semulus itu juga alhamdulilah sih ya, hehehe. Yang pasti, nggak mungkin ada buah kalo nggak ada yang menanam, nggak akan ada hasil kalo nggak ada usaha. PR pertama untuk bertindak adalah fokus. Karena banyaknya hal yang menarik perhatian saya, banyak juga ide yang saya dapatkan. Tapi semakin banyak ide yang muncul semakin banyak juga waktu yang saya buang untuk semata membayangkannya dan kehabisan waktu untuk mewujudkannya. Lingkaran setan banget deh, #sigh…

action

Ya sudah ya sudah, let’s do the very first step: Membuat resolusi blog 2015.

Agak ngenes sih emang kalo mikirin blog ini, soalnya kadang bener-bener diurusin, kadang dianggurin sampe berdebu dan bersarang laba-laba, #fiuh. Dan setiap tahun juga gitu, sama aja. Mungkin sudah waktunya memang dikeluarin jurus resolusi ini.

Baeglaaa… resolusi blog nophindahoz.com 2015 adalaaaah… lebih aktif sharing something lewat tulisan di blog ini, paling enggak, setiap seminggu selalu ada satu post yang saya tulis dan publish. Dan, karena fokus adalah niat saya untuk mencapai resolusi 2015, maka post di blog ini pun akan jadi lebih fokus dan tertata. Saya tetap akan menulis tentang daily events sesekali, tapi saya akan lebih aktif sharing soal passion saya di handmade-related thing, mendesain sesuatu, menerjemah, merawat kulit wajah, dan membesarkan anak :D.

Cozy #SquareInstaPic #alhawza #jenahara #familytime #beibizee #motheranddaughter #meandmydaughter

A photo posted by Noviana Indah (@nophindahoz) on

Semangat!!

Oiya, postingan ini diikutin IHB Blog Post Challenge bertema “RESOLUSI BLOG 2015 !!!”.

Menurut Saya, Hari Penerjemahan Sedunia Adalah…

..hari yang tepat untuk kembali menegaskan bahwa profesi penerjemah bukanlah profesi yang pantas dipandang sebelah mata. Eh iya sih, nggak ada kali profesi yang boleh disepelekan. Tapi ada, ada segelintir orang, atau beberapa gelintir, atau sebut saja oknum yang sering kali menyepelekan penerjemah.

Sepertinya memang itu sudah ditanamkan sejak dahulu kala di lingkungan sekitar saya, atau mungkin di negara saya ini, bahwa pendidikan bahasa itu nggak perlu lah terlalu ditekankan. Bahkan ironisnya, sering kali kelas Bahasa di SMA-SMA itu dimahfumi sebagai kelas buangan. Ah, itu zaman saya dulu sih, semoga sekarang sudah berubah.

Kembali ke profesi penerjemah.

Buat saya, menerjemah adalah sebuah seni. Seni melokalkan sebuah informasi yang sebelumnya tidak dimengerti menjadi info bermanfaat yang mudah dipahami. Karena itulah, menerjemah tidak hanya sekadar mengganti-ganti kata-kata dalam bahasa lain menjadi kata padanannya dalam bahasa native, tapi lebih seperti menuliskan kembali kata-kata itu dalam bentuknya yang paling mudah dibaca, dimengerti, dan dipahami. Dan selain kemampuan, menerjemah juga butuh kerja keras dan pembelajaran, serta latihan. Tidak mungkin hasil penerjemahan kita langsung begitu kerennya tanpa kita melalui proses latihan dan pembelajaran terus menerus. Ya, semacam ‘kalau nggak kotor, nggak belajar’, gitu deh.

Karena menerjemah itu nggak gampang, pantas dong biaya jasa menerjemahkan tidak murah. Lalu, berapa sih standar biaya jasa menerjemahkan itu? Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI) sudah memiliki acuan dasar tarif penerjemahan yang ditentukan berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan PMK No. 53/PMK.02 Tahun 2014 Tentang Perubahan Standar Biaya Masukan Tahun Anggaran 2015 yang mengatur Satuan Biaya Penerjemahan dan Pengetikan (halaman 56 butir 5), yang bisa dilihat di bawah ini.

Sumber: HPI

Selamat Hari Penerjemahan Sedunia! Happy International Translation Day!

Menurut Saya, Kenal Dengan Jenis Kulit Sedari Dini Adalah…

… anugerah. Dengan mengenali jenis kulit sendiri dan memahami apa saja yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan untuk menjaga kesehatan dan kecantikan kulit, kita pun bisa meminimalisir kecenderungan kulit bermasalah. Dan sayangnya, saya bukan orang yang sadar sejak dini #sigh..

Karena saya tidak percaya ada kebetulan di dunia, jadi takdir sepertinya telah menuntun saya untuk membuka blog Mimojoya di postingan ini. Dan setelah baca postingan itu, saya seolah tertampar begitu keras sekaligus tercerahkan. Saya akhirnya sadar kalau kulit wajah saya itu kering!

Setelah bertahun-tahun, semenjak saya mengenal kosmetik.. ternyata saya sudah melakukan kesalahan berkelanjutan.

Jadi saya dari dulu pengen banget punya kulit wajah kinclong kinyis-kinyis yang putih berseri dan bersinar-sinar itu. Mungkin saya terpengaruh iklan dan termakan doktrin bahwa cantik itu putih, tapi ya sudahlah, saya memang lebih suka kalau kulit wajah saya putih berseri.

Dari bermacam merek saya coba, dari pond’s, biore, nivea, wardah, sampai biokos. Pernah juga terjatuh ke dalam kubangan krim abal-abal seperti krim walet dan racikan dokterkuuu bukan abal-abal yang saya ga inget mereknya. Hasilnya?

Putih sih iya, karena memang saya turunan kulit terang kemerah-merahan, ya gak terlalu sulit sih mendapatkan kulit wajah yang cukup putih. Lalu setelah ga sering panas-panasan dan rajin membersihkan muka dan nggak menggosok2 muka dengan handuk, akhirnya wajah saya juga tidak terlalu kusam. Tapi keluhan utama: bruntusan semacam komedo putih di bawah cuping hidung dan di bawah bibir bawah masih belum ilang juga. Bahkan semakin saya rajin pake scrub, bruntusannya malah semacam mengelupas gitu kulitnya (dan saya baru tahu kalo ini tanda iritasi, damn).

Apa yang salah?

Saya selalu mengira kulit wajah saya adalah kombinasi. Soalnya suka agak kering di daerah pipi tapi suka jerawatan juga di jidat atau di dagu. Lalu bahkan akhir-akhir ini sempet kena jerawat batu di pipi, duh! Gak pernah sekalipun saya merasa berkulit kering karena adanyaa jerawat dan bruntusan itu, bahkan saya sering kali beli skincare buat kulit berminyak, saya sering pake scrub, bahkan saya gosok-gosok lebih kuat di daerah bruntusan.

Bahkan saya juga beli nanospray demi menghilangkan bruntusan itu. Kulit saya makin supple dan kenyal sih, tapi bruntusan tak jua hilang. Pake kangen water pun sama, bikin kulit wajah lebih segar, kenyal, terlihat sehat, tapi bruntusan tetap ada.

Dan thanks God atas bimbinganmu karena saat menjelajah di Google saya menemukan blog Mimojoya itu. Akhirnya saya yakin kalau jenis kulit wajah saya itu kering, dan saya benar-benar harus segera mengubah pola skincare saya demi menyelamatkan kemslahatan kulit wajah saya.

apa jenis kulitmu?

Sumber: Galadarling.com

Saya pun mencoba Hada Labo karena katanya perawatan ini bisa bikin kulit lembab terus. Dan ternyata memang iya. Setelah memakai facial wash dan lotionnya (belinya bisa di indomaret ato alfamart dsb), kulit saya jadi lebih kenyalan lagi dan kelembabannya bisa bertahan lama. Bahkan beberapa hari setelah pake, temen saya komentar “tuh bruntusan di balik cuping hidungmu agak mendingan tuh”. Belum ilang sih, tapi mendingan adalah kata yang cukup melegakan.

Dan karena saya sekarang paham kalau kulit wajah saya kering, saya juga bisa dengan mudah menentukan cc cream apa yang pas buat saya. Kenapa cc cream? Karena kandungan skincare cc cream lebih banyak dibandingkan bb cream, dan saya si maniak skincare yang lagi tertarik dengan make up, jadi cc cream cocok banget buat saya, krim ajaib yang saya cari-cari.

Akhirnya cc cream dari Secret Key yang Let Me Know jadi pilihan saya. Beberapa review yang saya baca bilang krim ini ga terlalu cocok buat wajah berminyak karena bakal seperti kilang minyak kalau dipake lama-lama. Karena itulah saya memilihnya. Buktinya? Ya krim ini awet-awet saja di muka saya, gak mengilap-ngilap gitu, biasa aja. Emang dasar muka kering sih yaaa hahahaa…

Jadi, sudahkah kamu paham jenis kulitmu?

Review: Menurut Saya, Pengalaman Belanja di Lensza, Lazada, dan Living Social Adalah…

… sebuah pahit manis kehidupan. Cie..

Yah, memang begitulah adanya sih. Ya namanya juga pahit manis, ada nggak enaknya, ada enaknya juga. Mana enak mana nggak enaknya? Saya bagikan kisahnya satu per satu yaa…

Belanja di Lensza.co.id

Saya nggak akan tahu kalo udah ada toko online yang jualan softlens lengkap berkualitas dan aman bukan abal-abal bernama Lenza.co.id kalo gak dapet email promo dari Clozette Daily.

Ya emang sih, salah satu keuntungan ikutan forum khusus wanita ya dapet promo diskon yang menggiurkan (yang bakal jadi bumerang kalo ga kuat iman hakhakhaaakk). Kayak pas itu, saya dapet voucher diskon 30% untuk pembelian di Lenza.co.id. Asyiknya, tanpa minimum purchase, yey!

Kebetulan sih emang saya dan Cinta adalah pengguna softlens, jadi meskipun belum waktunya beli softlens, akhirnya jadi beli aja deh, mumpung didiskon gini ahaiii (dan diskonnya limited time soalnya hahahahakk). Lagian, ntar juga pasti dipake kan lensa kontaknya.

Saya pesen tanggal 25 Juli siang dan melakukan pembayaran hari itu juga. Setelah membayar, saya konfirmasi. Lalu besoknya saya dapet email konfirmasi bahwa order saya masih pending (yang artinya masih diproses). Pasalnya, itu udah masuk libur Lebaran 2014. Jadi di email itu disebutkan:

“Dear customer, selama masa cuti bersama dalam rangka Idul Fitri, pengiriman pesanan di Lensza.co.id akan beroperasi kembali pada tanggal 4 Agustus 2014. Kami mohon maaf atas ketidaknyaman yang terjadi. Selamat Hari Raya Idul Fitri, mohon maaf lahir & batin. Salam, Icha-Lensza.co.id”

Tanggal 1 Agustus, Lensza kembali mengirimkan email yang menyebutkan bahwa pesanan saya sudah complete dan siap dikirim. (Sebelumnya saya juga men-double-confirm lewat What’s App mereka. Setelah adminnya yang melayani dengan baik itu meminta maaf, dia bilang pesanan saya baru bisa dikirim tanggal 4 karena terbentur libur Lebaran, no problemo :))

Hari Senin tanggal 4, email dari Lensza kembali saya terima. Isinya adalah informasi bahwa barang saya sudah dikirim. Disebutkan juga ekspedisi yang digunakan serta no resinya. Informasi yang lengkap ini membuat pembeli semacam saya jadi merasa tenang karena bisa terus melacak status orderan.

Lalu hari Rabunya, 6 Agustus siang, paket udah nyampe aja gitu di kantor saya, horeee… Nggak pake lama dan sampai dengan selamat dan tetap cantik hahaha…

Paketnya terbungkus rapi dan secure. Softlenses pesenan saya tertata apik di dalamnya dan sesuai orderan. Di dalamnya juga ada voucher lagi, potongan 10% untuk pembelian berikutnya, lumayaaaan hehehe…

Overall experience: wonderful
Repurchase: definitely yes
(4.5/5)

Belanja di Lazada.co.id

Sama seperti saat kita ingin mencoba belanja di tempat asing, rasa ragu dan takut pasti ada. Tapi rasa penasaran dan pengen dapat harga hemat jadi dorongan kuat bagi saya untuk mencoba belanja di Lazada.

Jadi ceritanya, saya mendapatkan email penawaran dari Lazada yang mengabarkan ada diskon gede buat pembelian bed cover set. Pas saya cek dan lihat-lihat, eh kok ternyata ada satu motif bed cover yang menggiurkan dan memang harganya jadi murah bingiiittt.

Setelah menghitung untung rugi dan masalah keinginan versus kebutuhan, akhirnya saya memutuskan untuk mencoba order saja. Betapa terkejutnya saya ternyata saya mendapatkan free ongkir! Wah, menyenangkan! Ternyata, barang yang dibeli di Lazada memang bisa free ongkir, asalkan pembelian lebih dari 95 ribu dan kurang dari 6 kilo. Asyik kan!

Jadi setelah masukin barang ke e-cart dan checkout, kita dikirimi email Konfirmasi Pemesanan yang berisi bahwa kita harus melakukan pembayaran maksimal 24 jam setelah memasukkan pesanan. Kalau lebih dari 24 jam, order dianggap batal.

Setelah melakukan pembayaran, kita kudu masuk ke laman konfirmasi pembayaran dan melengkapi formulir yang ada di dalamnya.

Saya memilih metode pembayaran menggunakan mobile banking. Dengan metode ini, setelah membayar dan konfirmasi, kita juga perlu mengirimkan email berisi bukti transfer mobile banking yang bisa kita salin dari kotak masuk aplikasi mobile banking kita ke Lazada.

Setelah mengirim email itu, Lazada bakal membalas dengan email konfirmasi yang menyebutkan bahwa pesanan kita sedang diproses. Tiga hari kemudian, saya mendapat email dari Lazada yang menyebutkan bahwa barang pesanan telah dikirim. Saya juga mendapatkan email lain berisi invoice pesanan tersebut, lengkap ya?

Khawatir kalau free ongkir barangnya bakal lama datengnya? Buang jauh-jauh deh kecemasan itu! Tiga hari kemudian, pesanan bed cover set saya sudah datang, tanpa lelet, tanpa kurang suatu apa. Dan dengan membayar 155 ribu, dapat bed cover set, free ongkir, dan nggak lelet datengnya, apa lagi yang kamu mau? Puas banget!

Hal ini jugalah yang kemudian membuat saya nggak ragu untuk repeat order di Lazada. Kali ini saya order bareng temen. Temen saya lagi pengen selimut fleece sementara saya pengen alat pembersih muka yang sedang bergaung dan bergema, Pobling (review soal Pobling bakal saya post beberapa hari mendatang hehe).

Setelah melalui langkah-langkah seperti order sebelumnya, tibalah saatnya saya mendapatkan konfirmasi pengiriman barang. Rupanya, meskipun dalam satu orderan dan free ongkir, dua barang yang saya pesan itu tidak dikirim bersamaan. Pasalnya, selimut fleece itu produk gudang Lazada sendiri sementara yang Pobling adalah barang supplier lain. Jadi, pengiriman pun tidak dikirim bersamaan karena barang gudang Lazada sendiri yang bisa dikirim lebih cepat sementara yang punya saya nunggu proses supplier dulu.

Invoice dan konfirmasi pengiriman pun akhirnya saya dapatkan dua kali dalam waktu yang berbeda. Tapi, meskipun pada akhirnya dua barang itu tidak dikirim bersamaan, free ongkir tetap berlaku, haha.. menyenangkan. Btw, email-email yang terus memberikan progress orderan ini buat saya terbantu sekali. Kita jadi nggak perlu bertanya-tanya, “gimana nih nasib pesenanku? gimana nih nasib paketanku?” dan semacamnya. Kita langsung tahu kalau orderan kita memang sudah diproses, sudah dalam perjalanan, dan melacaknya pun mudah dengan no resi yang juga diberikan. Bahkan Lazada juga memberikan notifikasi SMS saat barang kita dikirimkan, hihihi, informatif sekali.

Tiga hari kemudian, barang teman saya sudah datang. Punya saya, seminggu kemudian menyusul datang. Puas? Ya iyalaaah. Mungkin yang bikin agak nunggu adalah barang yang tidak di gudang Lazada. Ya memang prosesnya lebih panjang sih ya, tapi alangkah menyenangkannya kalo rentang datangnya barang tidak terlalu lama, hehehe…

Overall experience: awesome
Repurchase: definitely yes
(4/5)

Belanja di LivingSocial.co.id

Saya jarang banget kecewa sama penjual online karena alhamdulilah selama ini berbelanja online selalu bertemu dengan penjual yang amanah dan tepercaya. Tapi sepertinya saya harus siap-siap kecewa dengan Living Social. Saya pun sudah memutuskan untuk tidak akan lagi berbelanja di situ meskipun voucher-voucher dan promo-promo yang ditawarkan amat menggiurkan.

Itulah, saya tergiur dengan promo perlengkapan rumah murah di Living Social saat itu. Saya mendapatkan informasi itu lewat email promo yang masuk ke inbox. Karena memang lagi renovasi rumah dan nyicil beli-beli perlengkapan rumah yang lucu-lucu dan (sebisa mungkin) hemat, jadi saya order Lampu LED di Living Social (ya ampun Nopek, lampu LED bukan perlengkapan rumah lucuk kalik, plis!).

Saya order tanggal 20 Agustus yang lalu. Setelah checkout, saya mendapatkan email konfirmasi pemesanan dari Living Social. Berbeda dengan Lazada yang memberi waktu 24 jam, di Living Social kita harus segera melakukan pembayaran maksimal 3 jam setelah melakukan pemesanan. Pertamanya sih saya berpikir rentang waktu itu cukup pendek dan mepet, tapi mungkin karena barang di Living Social ramai peminat dan rebutan, jadi harus cepet-cepet membayar.

Saya pun segera melakukan pembayaran dan melakukan konfirmasi pembayaran. Di laman konfirmasi pembayaran disebutkan bahwa setelah prosesnya lengkap, saya akan mendapatkan konfirmasi status pesanan dari Living Social.

Besoknya, saya tidak mendapatkan email dari Living Social. Saya agak bingung dong ya, karena biasanya kan konfirmasi seperti itu paling nggak saya dapatkan dalam waktu maksimal 24 jam setelah pembayaran.

Akhirnya saya memilih untuk melakukan live chat dengan support. Saya menanyakan tentang status order saya. Ternyata, pembayaran orderan di Living Social paling lambat akan dikonfirmasi 2×24 jam. Kalau belum dikonfirmasi, saya bisa bertanya lagi pada support.

Besoknya ternyata saya belum mendapatkan email dari Living Social. Saya berusaha untuk positive thinking dan menunggu besoknya lagi. Besoknya lagi ternyata sudah hari Sabtu dan saya baru menyadarinya. Akhirnya, saya memutuskan untuk menunggu sampai hari Senin untuk mengecek status pesanan saya itu. Saya anggap Sabtu Minggu adalah hari libur yang biasanya tidak digunakan untuk memproses pesanan.

Hari Minggu saya iseng-iseng ngecek status order di akun Living Social saya. Eh, ternyata statusnya udah berubah jadi Complete setelah sebelumnya Pending. Saya terkejut dong ya, kok status udah berubah dan saya nggak dikirimi email pemberitahuan apa-apa. Oke, akhirnya saya menarik kesimpulan bahwa saya harus selalu mengecek sendiri status order dari akun kita, baeglah.

Senin, Selasa, Rabu, saya cek terus status order saya, ternyata nggak berubah-berubah. Saya baca-baca lagi FAQ Living Social dan mencari-cari review pelanggan tentang Living Social.

Ternyata, barang baru dikirim 7 hari setelah order lengkap. Wow, lama sekali ya, tapi ya sudahlah, lain lubuk lain belalang, lain online mall lain cara pengiriman hehehe. Yang mengejutkan, ternyata review pelanggan tentang Living Social yang saya temukan di internet tidaklah menggembirakan. Banyak yang komplen dan merasa kapok. Waduh! Semoga saya enggak deh, saya masih ber-positive thinking.

Kemudian seminggu berlalulah, saya menunggu, karena menunggu akhirnya rasanya seperti lamaa sekali. Hingga akhirnya saya nggak tahan dan kembali melakukan live chat dengan support hari Selasa tanggal 2 September. Saya menanyakan tentang status orderan saya.

Setelah diperiksa, petugas support meminta maaf atas ketidaknyamanan yang saya dapatkan. Dia bilang kalau seharusnya barang itu sudah dalam pengiriman, tapi karena keterlambatan dari supplier, jadi belum dikirim. Saya disuruh menunggu hingga tanggal 10 September (hari ini). Kalau sampai hari ini belum datang, akan dibantu untuk meminta refund. #sigh, di sini saja akhirnya saya sudah merasa malas.

Hari ini, barang saya belum datang. Saya pun dengan enggan mencoba untuk live chat lagi. Dan betapa lebih mengecewakan lagi, saya disuruh untuk menunggu hingga tanggal 20. Haduuuh, malasnyaaa menunggu teruusssss, hiks. Katanya gudangnya lagi pindah, jadi pengiriman barang agak terganggu. Huft, saya pun mengiyakan dengan agak keberatan, tapi ya sudahlah, saya tunggu aja tanggal 20 besok. Kalau nggak, saya refund aja.

Sebel, pengennya dapet barang great deal dengan good price, ternyata malah bikin capek hati capek pikiran dan capek ngetik (#halaaaahhh). Tapi saya salut sama support yang tetap sabar melayani para pelanggannya yang suka komplen, ya kayak saya ini hihihi…

Overall experience: dissapointed
Repurchase: no
(1/5)

Nah, itulah pengalaman saya berbelanja di pusat belanja online yang lagi marak belakangan ini. Enaknya sih emang tinggal klik klik klik, tadaaa, barang datang. Nggak enaknya ya kalau barang nggak datang-datang dan prosesnya ribet hehehe. Jadi, kamu mau belanja di mana? :D

Menurut Saya, Berat Badan Ideal Adalah…

..45 kilo! Semangat! Demi berat ideal, saya rela tiap hari berjuang keras menelan cairan putih kental berbau dan berasa aneh ini. Demi 45 kilooooo!

image
Scott's Emulsion Original! Cewek sejati gak pake rasa-rasa!

Posted from WordPress for Android

Not the world but my eyes. Not a thought but my opinion.

%d bloggers like this: